Tumpuan Pendidikan Indonesia

Pendidikan merupakan hal yang sangat vital bagi setiap orang, sebagaimana Gandhi yang menyatakan “Learn as if you were to live forever”. Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikanlah yang menjadikan seseorang dapat bertahan dan hidup sejahtera di dunia. Dengan risetnya, barat menyadari bahwa pendidikan yang membuat kesenjangan antara si kaya dan si miskin menjadi surut. Namun, apa kabar dengan negeri kita ini?

Indonesia masih dijejali oleh kebodohan. Kesenjangan sosial, pengangguran, dan kriminalitas bukanlah barang yang asing bagi warga negeri ini. Anak jalanan, gelandangan, pengamen, dan pengemis bahkan pencopet, pembegal, dan penjambret menjadi hiasan jalanan kota. Lalu apa yang dapat membungkam itu semua? Tentu pendidikan.

Mengelola dan membimbing murid dengan pendidikan membutuhkan integritas dari si pengajar itu sendiri. Jika sekarang banyak dijumpai ketidak normalan dari siswa atau murid maka perlu diajukan pertanyaan banyak-banyak kepada para guru. Sudah sesuaikah cara mereka dalam menyampaikan pendidikan kepada para anak bangsa? Apa yang salah dengan mereka hingga murid-muridnya tidak terlihat seperti orang yang perpendidikan?

Setelah guru berbenah, sediakanlah lahan kompetitif bagi siswa. Siswa yang cerdas tidak akan disebut cerdas lagi jika ia belum merasakan bagaimana rasanya berkumpul dengan orang cerdas lainnya. Adakanlah banyak perlombaan dan bantulah siswa dalam mengikuti kompetisi tersebut. Bukannya malah membuat siswa menutup diri dari persaingan dunia, dan menjadikan mereka vakum dan tertinggal.

Namun menjadi cerdas dan pintar saja tidak cukup. Moral dan kemampuan emosional siswa pun perlu diperhatikan. Bahkan moral dan kemampuan emosional ialah yang sebenarnya menentukan kesuksesan seseorang. Afektif dan psikomotor memang sudah selayaknya dijadikan sebagai nomor satu dan dua serta membawahi kognitif dalam sistem penilaian guru. Revolusi mental yang diusungkan oleh orang nomor satu Indonesia juga sedikitnya akan memberi harapan kepada bangsa. Tapi sudahkah semua itu terimplementasi di negeri ini? Sudahkah mental bangsa terevolusi? Sudahkan afektif dan psikomotor menyertai siswa yang cerdas dengan kemampuan kognitif yang relatif bagus? 

Membentuk bangsa yang berkarakter, berbudi, dan bermoral adalah langkah awal dari kesuksesan pendidikan dan kemajuan Indonesia. Pantas saja jika Rasul bersabda bahwa ia diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak, karena hanya dengan memperindah akhlak seseorang akan menemukan kesuksesan dan kesejahteraannya. Pantas pula jika bangsa yang dipimpin Rasul menjadi bangsa termaju di masanya setelah sebelumnya Arab adalah bangsa yang paling terbelakang di dunia.

Moral atau akhlak adalah bagian dari agama. Oleh karenanya, membuat murid mengenal agama dirasa penting dan menjadi keharusan. Di sini, guru tidak lagi menjadi sorotan bagi kapasitas siswanya, karena pendidikan keagamaan harus ditanamkan secara intensif oleh keluarga siswa. Jadi, dengan menghubungkan kerjasama antara guru, pemerintah, dan keluarga dalam meningkatkan pendidikan moral, agama, dan kecerdasan putra putri bangsa adalah tumpuan bagi kemajuan pendidikan Indonesia secara umum.

Old post ^.^ thank you for reading, appreciate it. Regards: Tita Novi 

Follow me on instagram 👉 tita_novi 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s