Menjelang Pemira, Kampus mulai Keras

Mula-mula saya bertanya, mengapa tho politik di kampus itu keras? Sebabnya apa? Alasannya apa?

Jumlah organisasi kampus tidak sedikit. Ada banyak organisasi di kampus, baik intra maupun ekstra. Semua organisasi itu mempunyai nyawa, spirit, atau semangat masing masing. Namun dalam beberapa hal, mereka semua sama.
Pertama, setiap organisasi haus akan popularitas. Kedua, setiap organisasi ingin eksistensinya kuat. Terakhir, setiap organisasi berharap kehebatannya (baca: taringnya) dikenal banyak orang. Dan, pada intinya setiap organisasi berpacu dalam popularitas.

Pluralitas organisasi yang ada di kampus, membuat mereka -mati-matian- saling berkompetisi dalam memenangkan hati mahasiswa abu abu dan khususnya maba (mahasiswa baru).

Berbagai macam cara akan dilakukan untuk mencapai ambisi (popularitas). Dari cara yang dinamis dan progresif sampai cara yang statis dan kotor (licik). Saat pemira, sebagian organisasi bahkan berani menggelembungkan suara agar calon yang diusungnya menang. Macam-macam topeng dipakai agar terlihat oke di depan mahasiswa abu abu dan maba. Ironisnya, yang biasa menjadi juara di pemira ialah organisasi yang -terlalu- ambisius dan yang menghalalkan segala cara itu.

Setelah ambisi mereka tercapai, hal selanjutnya yang akan diwujudkan adalah sukses pribadi. Karena sebenarnya, organisasi hanya berfungsi sebagai tunggangan bagi orang orang yang sadar akan kepentingan pribadinya. Dapat dipastikan bahwa hampir tidak ada orang yang benar benar tulus mendedikasikan dirinya untuk organisasi kampus yang diikuti.

Saya bukan orang abu abu. Saya seorang organisatoris, saya aktif dalam salah satu organisasi kampus yang ambisius itu. Dan, karena latar belakang saya ini, apa yang saya tuliskan di sini semoga mampu meyakinkan para pembaca. Karena jika anda setuju dengan saya maka anda setuju pula terhadap progresifitas organisasi kampus untuk kedepannya.

Jika anda merupakan orang yang menganggap itu wajar atau bahkan menganggap bahwa itu fitrah dari suatu organisasi dan manusia, saya setuju. Tapi saya tidak bisa membiarkan suatu kebobrokan, apalagi jika kebobrokan itu berdampak masif.

Garis bawahi ini: hasrat (ambisi) manusia yang bersih dan baik mestinya lebih dominan ketimbang yang sebaliknya. Serta, cara dalam mewujudkannya pun mesti berbanding lurus dengan ambisinya yang baik.

Tita NS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s