Visi Pendidikan Indonesia

image

Seharusnya, pendidikan bukan semata upaya menransfer materi pelajaran. Lebih dari itu, pendidikan adalah sebuah proses menyalakan pikiran, mematangkan kepribadian. Kalau pendidikan justru memampatkan kreatifitas, mengerdilkan keberanian berekspresi, memustahilkan impian serta membuat anak-anak menjadi asing pada dirinya sendiri dan lingkungannya, maka, sebaiknya, pendidikan tidak perlu ada.
(Lanang Manggala)

Saya sempat terkejut saat membaca Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3. Dari Undang-undang tersebut saya bisa memahami esensi, makna, tujuan, dan fungsi sebenarnya dari pendidikan. Berikut bunyi Undang-undangnya: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Awalnya saya mengira bahwa fungsi dari pendidikan itu adalah untuk mencerdaskan peserta didik. Sehingga untuk merealisasikannya, peserta didik dituntut untuk menguasai berbagai macam mata pelajaran. Apalagi di Indonesia berkembang pemikiran bahwa seseorang baru bisa dibilang cerdas bila ia mahir matematika. Di Indonesia, kecerdasan anak diukur dari seberapa mampu ia menyelesaikan soal matematika yang kompleks dan sulit. Maka sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, tidak sedikit anak Indonesia yang stres ketika menghadapai mata pelajaran ini serta tidak sedikit pula anak Indonesia yang nilai matematikanya di bawah rata-rata. Bagi saya ini ironi, sebab nyatanya bukan matematika yang mengukur kecerdasan murid melainkan watak. Bahkan definisi kecerdasan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia pun, kecerdasan bukan soal akal semata melainkan juga budi.

Keliru dalam definisi saja membuat orang yang terlibat dalam pendidikan salah kaprah. Baik murid maupun guru, sama-sama menganggap bahwa pendidikan itu bertumpu pada penguasaan mata pelajaran. Jika salah kaprah ini dibiarkan, hakikat fungsi dan tujuan pendidikan yang tertera dalam Undang-undang tentang Sistem Pendidikan di atas akan sulit terealisasi. Akibat konkret dari hal ini adalah maraknya mafia-mafia berijazah sarjana di berbagai macam lapangan pekerjaan, yang paling miris contohnya banyak wakil rakyat yang menjadi koruptor.

Saya menganggap Undang-undang di atas sebagai visi dari pendidikan di Indonesia. Visi berarti inti persoalan dan/atau pandangan ke depan mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Dengan mengetahui dan menyadari isi dari Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3, mestinya sejak tahun diundangkannya Undang-undang tersebut, Indonesia sudah mengembangkan kurikulum yang berbasis pada pengembangan watak yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia (beretika), sehat fisik dan psikologisnya, berilmu (alim), cakap (mempunyai kemampuan atau kepandaian untuk melakukan sesuatu), kreatif, mandiri, demokratis (mampu menghargai perbedaan), dan bertanggung jawab (dapat dipercaya dan diandalkan).

Saat ini, masih banyak murid yang cerdas secara akademik tapi bodoh dalam hal-hal yang dituntut di atas. Contoh, saya sering menemui murid yang pintar menyampaikan gagasannya tapi tidak menghargai gagasan orang lain, ingin menang sendiri (egois), overconfident (terlalu berbangga diri), bertemperamen buruk, dan sebagainya. Murid yang seperti ini tentu bukan murid yang diharapkan oleh guru manapun, maka guru mestinya memberi pengarahan sesering-seringnya mengenai bagaimana seharusnya si murid bersikap. Lebih tepatnya, semua yang terlibat dalam pendidikan termasuk orangtua murid mesti mengetahui esensi dari fungsi dan tujuan pendidikan yang tertera dalam Undang-undang di atas.

Emotional Skill dan Visi Pendidikan Indonesia

Fungsi dan tujuan dari Undang-undang yang dibahas dalam tulisan ini sesungguhnya berkaitan erat dengan pengembangan kecerdasan emosi peserta didik. Kecerdasan emosi merupakan elemen penting dalam meraih kesuksesan. Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri. Dengan mengetahui lima pokok dari kecerdasan emosi tersebut, orang yang cerdas secara akademis belum bisa dipastikan cerdas pula dalam mengolah emosi.

Menurut Daniel Goleman, orang yang hanya mengandalkan kecerdasan akademis semata tanpa diimbangi dengan kecerdasan emosi, cenderung memiliki rasa gelisah yang tidak beralasan, terlalu kritis, rewel, cenderung menarik diri, terkesan dingin dan cenderung sulit mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya secara tepat. Bila tetap dibiarkan, maka orang yang seperti ini akan terlihat sebagai orang yang keras kepala, sulit bergaul, mudah frustrasi, tidak mudah percaya kepada orang lain, tidak peka dengan kondisi lingkungan dan cenderung putus asa bila mengalami stress. Nampaknya, Indonesia memiliki cukup banyak perserta didik yang berwatak demikian, yakni bodoh dalam mengolah emosi (kecerdasan emosi).

Berdasarkan pada jurnal yang berjudul New Vision for Education: Fostering Sosial and Emotional Skill through Technology, kemampuan sebenarnya yang dibutuhkan oleh peserta didik di abad ke-21 ialah kemampuan mengolah emosi dengan baik, dalam jurnal kemampuan ini disebut character qualities. Kemampuan ini ditandai dengan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, berkolaborasi dengan yang lain, beradaptasi, berinisiatif, bertanggung jawab, kepemimpinan, dan memahami kondisi lingkungannya (social and cultural awareness).

Jika kita hubungkan uraian mengenai kecerdasan emosi atau character qualities di atas dengan visi pendidikan kita yang tertera dalam Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3, maka keduanya memiliki spirit yang sama yakni lebih mengutamakan pengembangan kecerdasan emosi atau karakter ketimbang kecerdasan secara akademis semata. Jadi, dengan kata lain, sejak tahun 2003 Indonesia memiliki visi pendidikan yang berfokus pada pengembangan kecerdasan emosional peserta didik.

Tidak hanya kesuksesan dan tercapainya pekerjaan yang kami inginkan sebagai mahasiswa, tapi juga pengabdian yang tulus pada bangsa.

Tita NS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s