Cerbung Misteri dan Psikologi: Lily? (Chapter 1)

image

Matanya melotot, badannya bergetar, berkeringat dingin, loyo, dan lunglai. Lily menjerit, berteriak tidak karuan, meminta bantuan, namun ia tidak berharap ada orang datang dan memberinya bantuan. Tik tok, tik tok, tik tok… teriakannya perlahan reda, badannya perlahan bangkit, Lily akhirnya bisa berdiri tegak, tersenyum pada dirinya sendiri di depan cermin, dengan mata dominan, penuh sinar, dan tajam.
***

Senyumnya manis dan tulus, parasnya jelita, otaknya pun sangat brilian, itulah gadis idola pondok pesantren al-Ikhlas, Lily Azkia. Sambil merapihkan bukunya, Lily memikirkan jemuran. Beberapa menit lagi, hujan akan turun. Lily khawatir tidak ada seorang pun yang sadar bahwa orang yang mengurusi jemuran mudir (Direktur di Pondok Pesantren) masih ada di kelasnya. Ia bergegas keluar dari kelas, berlari semampunya menuju tiang jemuran mudir yang tidak jauh dari gedung sekolah. Beruntung, Lily tidak telat. Dengan nafas yang lelah, ia berhasil mengangkat jemuran yang agak basah.
“li?” seseorang dengan suara berat menyapanya. Lily pikir itu abi, Lily kenal betul suara lembutnya abi. “Iya abi” Lily menjawab. Abi menghampiri Lily, kemudian ia berbelok ke arah dapur. Seperti biasa, abi menyiapkan makan siangnya kemudian ia akan bertanya “Lily sudah makan?” dan menawarkannya “Sini makan dulu!”. Seperti biasa pula, Lily hanya akan menjawab “Iya abi”, ia akan menjawabnya dengan penuh hormat dan malu.

Lily merapihkan jemuran yang ia angkat barusan, Lily menumpahkan jemuran itu di samping pintu belakang. Sambil membelakangi abi yang sedang makan di meja makan, Lily menyetrika pakaian dengan penuh kehati-hatian. Hanya keheningan yang ada. Lily dan abi sangat jarang sekali berbincang. Ia bahkan lupa, perbincangan apa yang terakhir kali diperbincangkannya dengan abi. Sudah barang tentu, Lily sangat menghormati dan menyayangi abi. Ia menganggap abi seperti orang tuanya sendiri. Tapi, Lily sadar posisinya. Ia hanya santri. Ia tidak berhak meminta perlakuan khusus dari abi.

Seseorang memanggil Lily dari luar. Dia Intan, teman baik Lily sejak kelas 1 SMP dulu. Intan mengajak Lily untuk makan siang dan istirahat sejanak. Lily mengiyakannya. Ia meminta izin untuk makan dan istirahat sejenak pada abi. Kemudian ia keluar dari rumah mudir, menghampiri Intan, dan dengan riang, mereka beranjak ke dapur umum.
“Gimana Li, umi sudah datang belum?” tanya Intan.
“Belum, mungkin sekitar jam 2, umi baru pulang.”
“Jemuranmu tidak keujanan kan?”
“Alhamdulillah, engga tan.”
Intan menarik nafas dalam-dalam, seakan ia baru terbebas dari ta’zir (Hukuman untuk santri yang melanggar aturan Pondok Pesantren) pengurus pesantren. “Untung aja ya li. Coba kalau keujanan, umi bisa marah besar sama kamu.” Lanjut Intan. Lily hanya tersenyum lembut dan menjawab “Iya”.
***

Sudah lebih dari 5 tahun, Lily tinggal di rumah mudir Pondok Pesantren al-Ikhlas. Abi dan umi ialah paman dan bibi Lily. Orangtuanya meninggal sejak ia berumur 4 tahun. Lily anak tunggal. Ia berjuang seorang diri, tanpa kakak atau adik, tanpa orang yang bernasib sama dengannya. Sekolah Dasar dibiayai oleh saudara ayahnya. Mereka mengurusi Lily hanya sampai Lily lulus SD. Setelahnya, Lily dikirim ke Pondok Pesantren al-Ikhlas, dan membiarkan saudara ibunya membiayai pendidikan Lily.

Lily sama sekali tidak mengingat wajah kedua orangtuanya. Ia lupa akan kasih sayang orangtuanya ini. Lebih dari itu, Lily tidak pernah mengenal kasih sayang. Saudara ayahnya merawatnya dengan kasar. Seringkali Lily dikurung di kamar mandi hanya karena persoalan sepele, atau dicubit hingga luka hanya karena ia telah membangunkan bibinya yang sedang tidur siang. Jika tetangganya bertanya “Lily kenapa?” bibinya akan mencubitnya sembunyi-sembunyi dan menyuruhnya menjawab “Tadi saya jatuh bu”. Pernah beberapa kali, pamannya menendang tubuh Lily yang mungil hingga tersungkur, dan bibinya memukulnya dengan sapu. Lily cilik hanya bisa menangis dan menjerit. Tidak muncul sedikitpun pertanyaan mengapa paman dan bibinya amat kasar padanya.
***

“Tan, kepalaku pusing banget” Lily mengeluh pada Intan yang sedang melahap makan siangnya. “Ada apa li? Ko pusing sih? Tadi kan ga kenapa-kenapa” Intan panik melihat wajah Lily yang tiba-tiba memucat. Lily meringis, ia tidak sanggup menahan rasa sakit di kepalanya. Tangisnya pun meledak. Intan yang ada di sampingnya tentu semakin panik, “Li, Li… kenapa? Sakit banget ya kepalanya?” Intan memeluk Lily dan membantunya bangkit. Ia bergegas membawanya ke UKS.

Sesampainya di UKS, Lily pingsan. Intan yang kebingungan segera keluar mencari bantuan orang untuk menolong Lily. UKS sedang sepi, tidak ada pengurus bagian kesehatan yang menjaga ruangan ini.

Saat Intan keluar, Lily perlahan membuka matanya. Kali ini, tatapan matanya sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ia sedang kesakitan. Sebaliknya, tatapannya menjadi tajam, tidak lembut lagi.
“Li?” Intan datang dengan beberapa pengurus bagian kesehatan, “Li gimana, sudah baikan?”

Lily berdiri menghadap cermin di UKS, ia diam di sana, dan hanya menjawab “Um…” atas pertanyaan Intan yang khawatir.

Semuanya terasa mengherankan bagi Intan. Melihat Lily yang tiba-tiba menangis karena sakit kepala akut, kemudian saat ia tinggalkan sejenak Lily di UKS, Lily malah terlihat baik-baik saja. “Li, Sakit kepalamu sudah hilang?” tanya Intan penuh khawatir.
“Tadi aku rame banget tan?”
“Engga ko” Intan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya ini. “Kepalamu masih sakit kan? Aku dan pengurus UKS bawa obat pusing buat kamu, sekalian mereka mau cek tekanan darah kamu” Intan mencoba menahan kebingungannya. Saat ini ia hanya perlu memastikan kondisi Lily. Dalam hatinya, ia dendam, ia ingin sekali membuncahkan banyak pertanyaan pada Lily.
“Santai saja tan, kepalaku ga pusing lagi ko.”
“Oke kalo gitu, kita ke kamar yaa! jangan kerumah mudir lagi. Kamu harus istirahat dulu. Kamu ga tahu ya, tadi tuh aku panik setengah mati. Bayangin Ly, aku nyari Kakak pengurus UKS ini kemana-mana, Cape tau!” Intan mengomel.

Lily tidak bereaksi sedikit pun, ia hanya diam dan tersenyum tipis. Kemudian ia meletakan tangannya di pundak Intan, menarik Intan keluar, dan mengucapkan salam pada dua pengurus bagian kesehatan yang ada di samping ranjang. Intan bengong. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Lily membawa Intan ke belakang gedung asrama. Sekarang Intan yang memucat. Lily menatap Intan dengan sorotan mata yang tak biasa. Ada sesuatu yang ingin Lily sampaikan, Intan yakin itu. “Ly Ada apa? Ada yang mau diomongin ya?” tanyanya pelan.
“Tan, aku ga bisa ngikutin gaya Lily. Kamu jangan bilang siapa pun, kalo ini bukan Lily.”
“Maksud kamu apa Ly?”
“Gapapa. Intinya kalo kamu liat aku beda, jangan tanya kenapa, oke!”
“Apaan sih Ly. Kamu ngawur yaa? Kepala kamu udah ga sakit lagi kan?”
“Tan, karena kamu sahabatnya Lily, kamu perlu tahu kalau aku ada di tubuhnya Lily. Lily sahabatmu itu punya sesuatu yang dia rahasiakan dari siapapun!”

Intan gemetar, wajahnya semakin pucat. Ia baru ingat bahwa semalam ada santriwan yang kesurupan. Intan benar-benar tidak sanggup menahan rasa takutnya pada sahabatnya sendiri. Ia merengek, meminta agar Lily tidak bersikap seperti itu lagi, sedangkan hatinya sibuk berkomat-kamit, membaca doa, berharap Lily kembali seperti semula. Lily tidak peduli dengan kondisi Intan yang ketakutan tidak karuan. Ia hanya menarik napas panjang, kemudian pergi meninggalkan Intan seorang diri.
***

Setelah kejadian itu, Intan tidak pernah tenang. Ia selalu memikirkan kondisi sahabatnya. Beberapa hari ini, ia melihat Lily tidak lagi ceria. Lily menjadi sosok yang sangat dingin dan galak. Bahkan Lily tidak pernah menyapanya lagi. Ia benar-benar telah kehilangan sahabatnya.

Persoalan menjadi lebih kompleks sebab keluarga mudir selalu bertanya ke mana Lily. Berkali-kali Intan menyuruh Lily untuk kembali ke rumah mudir, tapi Lily tidak menghiraukannya. Entah alasan apa lagi yang bisa ia beritahukan pada mudir. Intan hampir menyerah.

Hari ini, Intan memutuskan untuk membicarakan masalah Lily dengan pengurus pondok pesantren. Bersyukur, mereka sangat peduli pada santri. Intan dan pengurus pondok pesantren berencana untuk membaca diary Lily dan menyelidiki apa yang sedang disembunyikan olehnya. Mereka mencari diary itu saat para santri sedang mengaji. Beruntungnya, diary Lily tidak terlalu sulit ditemukan. Mereka membuka diary itu dengan saksama dan Intan mulai membacakan tulisan yang ada di dalamnya. Lily berkisah…

Rabu, 13 April 2016

Orangtuaku pergi ketika aku berumur 4 tahun. Paman mengadopsiku, kemudian menjadikanku kacung di rumahnya. Paman dan bibi menendangku seenaknya, mereka berdua adalah monster yang hatinya beku. Aku hidup seorang diri. Aku ingin sekali kasih sayang. Aku ingin mereka tahu bahwa saat umurku 8 tahun, ada orang yang jahat kepadaku. Tapi percuma, tidak ada siapapun untukku. Monster tetap monster, paman dan bibi tidak akan bisa berubah, mereka biadab selamanya.

Biadab itu tidak tahu bahwa aku dicabuli saat umurku 8 tahun. Saat itu, seseorang mengikutiku, aku berlari, dan orang itu mengejarku. Tapi aku kelelahan, kakiku terlalu kecil untuk terus berlari, aku hanya bisa berharap ada penduduk yang menolongku. Nyatanya, kampung sedang sepi. Aku berdiri di depan rumah yang tidak berpenghuni. Aku takut, aku hanya bisa berdiri, menangis, menjerit minta tolong. Orang itu datang… dan dia mencabuliku.

Kalian para biadab, kalian tahu seberapa besar beban yang aku pikul ini. Aku manahan rasa sakit (fisik dan mental), aku menahan rasa malu sebagai korban pelecehan seksual, aku menahan rasa pedih tiada tara sebab orangtuaku pergi saat aku sangat membutuhkan mereka. Aku sekarat, aku ingin Tuhan menghapus memori kelam ini.

Lily, kapan kau ingat masa lalumu ini? Apakah selamanya harus aku yang menanggung penderitaanmu Ly?

Intan membeku. Para pengurus itu beristighfar. Semuanya diam terpaku.
“Tan, abi perlu tahu. Ini masalah serius loh!” seorang pengurus memecah kesunyian.
“Kak, tolong kakak jangan nyebarin cerita ini ke siapa pun. Aku ga mau ada orang lain selain kita yang tahu tentang Lily ini” Jawab Intan.
“Iya, kita bisa jaga rahasia Lily ko. Tapi tan, ini persoalan rumit, keluarga Lily perlu tahu. Kita harus ngasih tahu abi dan umi. Gimana?”
“Aku ga tahu harus gimana ka, aku bingung. Aku masih belum tahu Lily itu kenapa!” Sanggah Intan.
“Oke kalo gitu, kita aja yang langsung ngasih tau mudir.”
“Jangan ka, aku ga berani kalau belum ngomongin ini ke Lily. Nanti aku coba ngajak Lily ngobrol.” Pinta Intan. Intan merasa amat bersalah sebab ia telah membongkar diary sahabatnya. Keadaannya semakin membingungkannya. Entah apa yang akan ia bicarakan pada Lily nanti. Ia masih memikirkannya.
***

Belakang gedung sekolah adalah tempat yang paling disukai Fira. Cuaca sedang cerah, anginnya sejuk, sawahnya hijau terbentang luas. Sedap dipandang. Sungguh tempat yang cocok bagi Fira untuk melanjutkan tulisannya di diary hijau milik Lily. Perlahan ia membuka tiap lembaran diary itu, membaca sekilas tulisannya, membacanya dengan hati yang sakit, sesak, serta penuh kebencian. Tak kuasa Fira menahan emosinya. Ia basahi diary itu dengan air matanya.
***

Lily membuka matanya, ia baru sadarkan diri. Ia mendapati dirinya sedang memegang diary hijau kesayangannya di saung.
“Fira…” sebut Lily dalam hati, “Fira muncul lagi…”

Lily menatap diary hijau di tangannya, dan bertanya dalam hati “Apa lagi yang dia tulis di diary?” ia membuka tulisan Fira hari rabu tanggal 12 April, kemudian membacanya.

Lily gelisah dengan apa yang ditulis Fira di diary-nya. Tulisan itu menyayat hatinya. Ia sesak karenanya. Sekali lagi ia membaca kalimat terakhir dari tulisan itu “Lily, kapan kau ingat masa lalumu ini? Apakah selamanya harus aku yang menanggung penderitaanmu Ly?” Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kalimat ini.

Lily beranjak dari saung itu, ia pergi menuju rumah mudir. Ada hal penting yang harus ia tanyakan pada abi. Ia tahu bahwa umi pasti akan murka padanya. Ia yakin sekali, Fira lalai akan kewajibannya sebagai Lily yang bertugas mengurusi ‘dapur’ mudir. Tapi ia butuh sekali abi untuk menjawab pertanyaannya nanti.
***

Di ruang tamu, abi terlihat sedang beristirahat. Waktu yang pas untuk Lily bertanya pada abi. “Assalamualaikum bi”
“Waalaikum salam, Lily ke mana aja? Ko ga ke rumah abi? Sehat?”
“Alhamdulillah sehat bi” Lily hanya bisa menjawab itu. “bi, Lily mau tanya sesuatu.”
“Tanya apa?”
“Saat orang tua Lily meninggal, bukannya abi dan umi yang menjadi wali Lily?”
Abi tidak langsung menjawab pertanyaan Lily. Ia terdiam sejenak, seakan ada sesuatu yang ia pertimbangkan. Abi menjawab, “Bukan Li.”
“Lalu siapa bi? Lily benar-benar lupa masa kecil Lily.” sambung Lily penasaran.
“Adik ayah Lily yang merawat Lily sebelum Lily masuk Pondok Pesantren ini.”

Lily sama sekali tidak mengingat adik ayahnya sendiri. Namun ia lega sebab paman dan bibi yang dimaksud Fira bukanlah abi dan umi. Ia semakin penasaran, apakah Fira adalah pribadi alter yang tercipta sebagai dirinya yang menyimpan memori kelamnya saat kecil? Apakah Fira dan dirinya adalah orang yang sama dengan ingatan dan pribadi yang berbeda? Tapi kenapa ia lupa masa lalunya? Kenapa ada sosok Fira yang hidup dalam dirinya? Kenapa ia mesti menderita penyakit mental ini? Kenapa ia berkepribadian ganda?

Dadanya terasa sesak dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Lily tidak ingin abi tahu bahwa ia sedang memikirkan nasibnya sebagai orang yang pribadinya terpecah belah. Lily berusaha bersikap seperti biasa, ia kemudian tersenyum pada abi dan bertanya lagi.
“bi, seperti apa adik ayah itu?”
“Dia seorang pengangguran Ly, istrinya yang harus bekerja sebagai tukang sayuran. Mereka hidup susah Ly. Mungkin karena masalah ekonomi itu, temperamen mereka jadi jelek. Mereka sering marah-marah… Abi kasian sama anak-anak mereka yang dirawat dengan kasar.” Abi diam sejenak kemudian bertanya “Kenapa Lily tiba-tiba nanya itu?”
“Karena Lily amnesia, Lily ingin mencoba ingat masa lalu Lily bi. Semoga dengan bertanya soal wali Lily dulu, sedikit demi sedikit Lily bisa ingat lagi.”
“Ya sudah kalau begitu, abi doakan amnesia kamu cepat sembuh ya.”

Lily mengaminkan doa abi dan mengakhiri perbincangannya. Ia keluar dari rumah mudir sambil terus memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menyembuhkan amnesianya itu. Masa lalunya mesti ia ingat kembali. Jika masa lalu Fira yang tertulis di diary adalah masa lalunya juga, ia akan ngeri pada hidupnya sendiri.
***

Awalnya Fira hanya sosok samar yang ada dalam mimpi-mimpi Lily. Ia tidak mengganggu, hanya diam, dan mengamati. Lily tidak pernah menggubrisnya. Ia sudah terbiasa dengan berbagai monster di mimpinya. Namun pada suatu malam, Fira datang menghampirinya. Seperti berkaca di depan cermin, Fira berwajah sama dengannya. Fira menyeringai sinis. Ia menatap Lily dengan sosot mata yang mencekam, menghunjam hatinya. Ada kebencian yang pekat yang dirasakan Fira.

Sejak malam itulah, Fira selalu hadir dalam setiap mimpinya. Bahkan Ia mulai kurang ajar, berani mencoba untuk menjadi komandan atas tubuh Lily. Beberapa kali ia mengejek Lily kasar, menyebutnya sebagai pengecut, lemah, payah, dan bodoh. Ia ingin sekali mengambil alih waktu dan tubuh Lily. Ia ingin sekali menggantikan dan menyingkirkan Lily, membuat Lily tidak bisa bangun lagi dari tidurnya.

Fira telah menakutinya. Ia takut jika sosok itu benar-benar bangkit dan mengambil alih tubuhnya. Ia tidak ingin ada orang lain tahu bahwa Fira telah menerornya dalam mimpi. Namun ia sadar bahwa nyatanya ia gagal. Fira telah hadir dalam dirinya. Beberapa kali, ia lupa dan tidak sadar dengan apa yang telah diperbuatnya. Sosok itu telah mengambil waktunya. Ia sadar bahwa ada jiwa Fira yang terkungkung dalam dirinya, “tapi kenapa?” batin Lily.

Tita NS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s