Rangkuman Kitab Muqadimah (Ibnu Khaldun) Part 2

image

Di part ini, akan dibahas pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun menetapkan konsep “profit” dan “konsumsi” dan menetapkan batasan ketidakadilan. Bagi saya, batasan ketidakadilan ini sangat penting untuk dikembangkan dan disadari di zaman sekarang. Karena, suatu bangsa akan hancur bilamana negara itu linglung membedakan mana yang adil (bermoral) dan mana yang tidak, mana yang bisa diterima dan mana yang tidak, dsb, dsb.

Selamat membaca kawan-kawan, semoga bacaan ini bisa memberikan motivasi bagi semua. 🙂

Chapter IV : Sedentary civilization, countries, and cities.

Bahasan pertama: Dinasti sangat penting bagi kota. Kota ialah produk dari dinasti. Membuat sebuah kota merupakan konsekuensi dari eksistensi dinasti. Tidak hanya membuat, dinasti juga bertanggung jawab dalam membangun kota tersebut. Umur dinasti menentukan pula umur kota yang dibuat dan dibangunnya. Matinya suatu dinasti berarti mati pula kota-kotanya. Kedua: Dinasti menghendaki diciptakannya perkampungan. Dinasti membutuhkan wilayah yang bisa diklaim menjadi wilayah kekuasaannya, sehingga dinasti bisa bertahan dari serangan musuh apabila orangnya bertambah seiring dengan bertambahnya wilayah kekuasaan. Lebih jauh lagi, banyaknya wilayah dapat menakuti para musuh yang hendak menyerang alias semakin memperkuat posisi dinasti yang bersangkutan.

 

Chapter V : Crafts, ways of making a living, gainful occupations, and their various aspects.

Bagian ini akan membahas perekonomian masyarakat secara khusus. Dari sinilah, kita akan menemukan pemikiran Ibnu Khaldun terkait ekonomi Islam. Bagian ini memiliki satu sub bagian yang berjudul “The real meaning and explanation of sustenance and profit. Profit is the value realized from human labor” yakni arti dan penjelasan laba dan makanan (konsumsi) yang benar. Laba adalah nilai yang disadari dari kegiatan manusia sebagai pekerja. Pokok-pokok pemikiran Ibnu Khaldun pada bagian ini di antaranya ialah:

  1. Pada dasarnya manusia adalah makhluk konsumtif dan rakus. Allah berfirman dalam al-Quran: “He created for you everything that is in the heavens and on earth. He subjected the sun and the moon to you. He subjected the sea to you. He subjected the firmament to you. He subjected the animals to you.” Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi ini tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia. Karenanya, manusia itu tidak memiliki sesuatu apa pun, yang ada untuknya adalah titipan Allah. Manusia hanya sebagai perwakilan Allah dan bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi di bumi, jika kerusakan itu ditimbulkan olehnya. “God is rich, but you are poor.”
  2. Manusia saling membutuhkan satu sama lain. Untuk menunjang kebutuhannya, mereka bisa menukar barang yang mereka miliki dengan barang milik orang lain yang mereka butuhkan. Muqadimah menulis: Every man tries to get things; in this all men are alike. Thus, whatever is obtained by one is denied to the other, unless he gives something in exchange (for it).
  3. Makanan (konsumsi) dan keuntungan (profit) memiliki perbedaan prinsipil. Makanan ialah apa yang dikonsumsi oleh manusia dari hasil yang ia dapatkan setelah melakukan usaha. Namun, usahanya tersebut tidak secara murni diusahakan oleh manusia, tapi juga oleh campur tangan Allah di dalamnya. Misalnya, seorang petani yang mengandalkan hujan, dan lain sebagainya. Sedangkan keuntungan dihasilkan “sepenuhnya” oleh usaha manusia itu sendiri, dan hasilnya tidak digunakan untuk mengonsumsi sesuatu. Berikut kutipannya: When the use of such accruing or acquired (gain) reverts to a particular human being and he enjoys its fruits by spending it upon his interests and needs, it is called “sustenance”. “When (a person) does not use (his income) for any of his interests and needs, it is not called “sustenance.” (The part of the income) that is obtained by a person through his own effort and strength is called “profit.” Ibnu Khaldun menekankan bahwa keuntungan ialah hasil dari usaha manusia untuk memaksimalkan produksinya dan dari kesungguhan untuk memperoleh keuntungan tersebut. Konsekuensinya, keahlian manusia menjadi hal utama yang diperlukan dalam memperoleh keuntungan, keahlian manusia pun menjadi salah satu faktor produksi. Seorang “bos” mau tidak mau mesti memerhatikan nilai (value) dari faktor produksi ini. Ibnu Khaldun menyebut tenaga kerja manusia (human labor) sebagai acquired capital (modal yang diperoleh). Saking pentingnya, nilai tenaga kerja manusia menjadi modal pokok dalam kegiatan produksi. Produksi tidak akan ada tanpa tenaga kerja, keuntungan produksi tidak akan diperoleh tanpa nilai tenaga kerja. Muqadimah mengungkapkan: If the profit results from something other than a craft, the value of the resulting profit and acquired (capital) must (also) include the value of the labor by which it was obtained. Without labor, it would not have been acquired.

Chapter VI : Sciences, their acquisition and study.

Ibnu Khaldun menegaskan bahwa manusia dianugerahi akal. Karenanya, manusia adalah makhluk sempurna yang dibedakan dengan makhluk lainnya. Namun daya pikir ini memiliki jenjang. Jenjang yang pertama seperti yang dijelaskan dalam kutipan ialah “man’s intellectual understanding of the things that exist in the outside world in a natural or arbitrary order, so that he may try to arrange them with the help of his own power”. Jenjang kedua ialah the ability to think which provides man with the ideas and the behavior needed in dealing with his fellow men and in leading them. Dan, jenjang ketiga ialah the ability to think which provides the knowledge, or hypothetical knowledge, of an object beyond sense perception without any practical activity (going with it).

Saya pahami bahwa jenjang pertama berarti kemampuan seseorang dalam mengenali benda yang ada disekitarnya, jenjang kedua berarti kemampuan sosial seseorang, dan yang terakhir berarti kemampuan berpikir dan berkreasi. Ibnu Khaldun juga sepakat dengan peribahasa yang berbunyi “The beginning of action is the end of thinking, and the beginning of thinking is the end of action.” Artinya, tindakan yang dilakukan manusia dan segala materi yang dilihat dan dirasakan manusia merupakan produk akal atau berpikir. Sebelum benda-benda yang dibuat oleh manusia menjadi materi, manusia terlebih dahulu memikirkan cara membuatnya.

Sub bagian terakhir dari bagian ini menguraikan tentang the experimental intellect and how it comes into, yakni proses belajar atau berpikir. Namun penulis akan menguraikannya di lain kesempatan.

 

Penutup

Pada intinya, Muqadimah berisi tentang produk akal manusia yang meliputi ilmu pengetahuan dan keahlian, dan fitrah manusia sebagai makhluk sosial, politik, dan ekonomi. Karena ini manusia menciptakan kota, dinasti, dan barang konsumsi guna menunjang kecenderungannya sebagai makhluk sosial, politik, dan ekonomi. Manusia pun membutuhkan ini untuk melestarikan hidupnya dan menemukan makna hidup. Demikianlah ringkasan kitab Muqadimah Ibnu Khaldun.

God said: “He gave everything its natural characteristics, and then guided it.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s