Ideologi Barat vs Pancasila (Membahas Persoalan Globalisasi dan Islam)

image

Pada akhir zaman umatku akan diperebutkan sebagaimana semangkok makanan yang siap disantap.” Sahabat bertanya, “Apakah jumlah umat Islam ketika itu sedikit?” Rasulullah menjawab, “Tidak, bahkan ketika itu jumlah umat Islam banyak, namun banyaknya itu bagaikan buih di lautan, karena ketika itu umat Islam menderita penyakit wahn” Sahabat bertanya, “Apakah penyakit wahn itu?” “Cinta dunia dan takut mati” Jawab Rasulullah.

Masyarakat Indonesia sangat dikenal keramahan, kebaikan, dan keikhlasannya dalam bergaul dan berinteraksi. Tanpa menganggap remeh, mental bangsa Indonesia yang sejati tersebut pastinya akan menjadi benih bagi kebangkitan bangsa Indonesia itu sendiri. Namun, globalisasi datang, kemudian mengikis apa yang kita unggulkan itu. Barat memimpin proses masyarakat dunia untuk menglobal. Negara-negara besar, katakanlah Amerika Serikat dan negara maju Eropa ialah sekumpulan negara yang betul-betul berpengaruh bagi negara-negara kecil seperti kita. Mereka jauh di atas kita hampir dalam segala hal. Otomatis, masyarakat Indonesia mesti berusaha bersama untuk mengejar ketertinggalan ini. Caranya ialah dengan mencoba style orang-orang Barat dalam menggapai kemajuannya. Indonesia mesti berbaur, beradaptasi, dan mengadopsi gaya hidup masyarakat di negara-negara maju itu.

Dalam kebangkitan dan kemajuannya, Barat telah meminimalkan peran Tuhan. Hal ini diilhami oleh filsuf sekuler John Locke (1632-1704) yang membebaskan agama dari kontrol negara yang koersif dan memungkinkannya untuk menjadi lebih sejalan dengan cita-cita spiritualnya, liberalisme. Sedangkan Indonesia yang lebih dulu mendapat pengaruh dari pengusaha Muslim Gujarat pada abad ketujuh, memiliki paham yang bertolak belakang dengan liberalisme Barat.

Namun apalah daya, sebab arus globalisasi yang begitu kuat memaksa bangsa kita untuk bisa menyesuaikan diri dengan kultur Barat. “Katanya” supaya tidak tertinggal dan terbelakang. Supaya modern.

Cara itu sudah dicoba oleh para pemimpin Daar al-Islam yang secara militan menjadi anti Islam. Katakanlah Attaturk, Jamal al-Naseer, dan Reza Shah Pahlevi dengan bodohnya mengikis pengaruh Islam di negerinya masing-masing. Mulai dari mengubah sistem madrasah, menindas para sufi, mengganti syariat dengan sistem sipil, hingga melarang pemakaian busana muslim, dan mewajibkan masyarakat untuk mengenakan busana Barat, bahkan melarang mereka untuk pergi haji. Ambisi dunia telah menggerogoti mental para pemimpin Daar al-Islam tersebut. Tapi, hasil yang didapat ialah tidak tercapainya kemajuan layaknya Barat, alias gagal.    

Apa yang terjadi pada mental masyarakat Indonesia nampaknya juga sama dengan apa yang terjadi pada mental Attaturk dan kroni-kroninya. Kultur Barat yang lebih menekankan pada liberalisme namun malah beralih menjadi individualisme ekstrim cenderung mengabaikan solidaritas kemanusiaan. Indonesia yang mulanya memiliki solidaritas ini, beralih pada mental individualisme ekstrim yang dianggap mampu untuk meningkatkan prestise atau karier ekonominya.

Intinya: Jangan sampai Bangsa kita yang religi berubah menjadi bangsa yang bermental Barat; liberalis, individualis, dan sekuler. Karena kita punya ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ dan ‘Persatuan Indonesia’ !

Rasul menyadari bahwa umatnya yang hidup di abad yang jauh dari abad sewaktu rasul hidup akan mengalami dekadensi moral yang dahsyat yakni wahn (cinta dunia dan takut mati). Hal ini –salah satunya—dipengaruhi oleh globalisasi di era modern. Efek negatifnya bermuara pada gaya hidup (millah), peniruan pola pikir (fikrah), dan budaya (tsaqafah). Dalam hadistnya Rasul menyebutkan bahwa umat Islam yang jumlahnya banyak namun bagaikan buih di lautan sebab digerogoti oleh penyakit wahn ialah umat Islam yang hidup di akhir zaman.

Peringatan Rasul ini mesti diingat selalu. Lebih bagusnya lagi, jika kita waspadai. Cobalah dari sekarang, kita koreksi gaya hidup (millah), pola pikir (fikrah), dan budaya (tsaqafah) kita. Jangan sampai millah, fikrah, dan tsaqafah impor yang cenderung negatif mengintervensi millah, fikrah, dan tsaqafah lokal yang berwawasan falsafah bangsa. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s