Cerbung Misteri dan Psikologi: Lily? (Chapter 2)

image

Intan melantunkan ayat suci al-Quran dengan suaranya yang nyaring, lantunan itu seakan menyiratkan kegelisahan, kebingungan, kegalauan, dan kesedihan. Sampai sehari setelah ia mengobrak-abrik lemari Lily, hanya untuk membuka catatan harian Lily, ia masih belum tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Sebagai santri senior, bacaan al-Qurannya tentu rapih, namun kali ini ia sering salah dalam membaca huruf dan menerapkan tajwid. Sahabatnya itu telah mengacaukan konsentrasinya.

“Aku benar-benar gak bisa baca Quran sekarang, Lily gimana ya, ya Allah… gimana ini! Lily kenapa? Lily marah ya? Diary Lily itu maksudnya apa? Aku gak bisa ngambil kesimpulan ceroboh, aku perlu nanyain masalah Lily ke Lily langsung, tapi kapan? Gimana caranya aku ngomong ke Lily? Diary dan sikap Lily adalah inti masalahnya, aku harus mastiin apa yang sebenarnya terjadi, aku harus fokus pada diary dan omonganya aja. Gimana caranya aku tahu apa yang sebenernya terjadi? Gimana?”

Intan tidak sanggup menahan hatinya yang terus berkomat-kamit, selusin pertanyaan “kenapa” dan “bagaimana” ia lontarkan dalam benaknya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya menimpa sahabatnya. Ia memilih berhenti mengaji dan bergegas menuju hujrah (kamar santri) sehingga ia bisa memikirkan lebih lanjut apa yang akan ia bicarakan pada Lily.

Intan bergegas ke hujrah dengan wajah kusut dan bingung, bahkan ia berjalan tidak karuan. Ribet dengan mukena di kepalanya, rok mukena di tangan kanannya, dan sajadah di tangan kirinya. Lily benar-benar telah merusak moodnya. Intan membaringkan badannya sesampainya ia di hujrah, ia membiarkan pikirannya melayang lagi, memikirkan masalah sahabatnya yang di luar imaji itu.

“Inti masalah Lily adalah diary dan omongan Lily, inti masalah dari diary Lily adalah masalah Lily, dan inti omongan Lily waktu itu adalah rahasia Lily bahwa Lily gampang kesurupan.” Intan meraih pulpen dan buku di atas lemari, kemudian menuliskan buah pikirannya tentang inti persoalan Lily yang baru saja ia pikirkan, setelah itu ia kembali menelusuri dan memikirkan keadaan Lily. “Aku ini bingung dengan keadaan Lily, Lily kenapa? Itu masalahku!” Intan curahkan pertanyaan “Lily kenapa?” ke dalam buku di tangannya, “Terus… aku juga bingung dengan masalah Lily yang ditulis di diarynya itu, ada apa dengan diarynya? Apa maksud kalimat ini Lily, kapan kau ingat masa lalumu ini? Apakah selamanya harus aku yang menanggung penderitaanmu Ly?” Intan menulis kalimat terakhir yang ditulis di diary Lily di bukunya dan menandai kalimat itu dengan garis bawah dan kutip. “Kalimat ini menjadi bukti bahwa bukan Lily yang nulis, aku cukup yakin tulisan itu bukan tulisan Lily. Tulisan siapa ya?”

“Tan?”

Seketika pikirannya kabur, Intan menjawab panggilan itu, “Apa?”

“Lagi sibuk?” salah satu pengurus Pondok Pesantren duduk di sebelah Intan.

“Ada apa emang Kak?”

“Kamu gantiin Lily piket lapangan ya!”

“Loh? Lily gak bisa piket Kak?”

“Dia lagi ada urusan tan, sekarang lagi di perpustakaan bareng Ustadz Ali.”

“Ya udah Kak, aku gantiin.” Intan anak yang rajin dan tanggung jawab, ia tidak pernah merasa keberatan dengan semua kewajiban yang dilimpahkan kepadanya, ia juga sudah sangat terbiasa membantu pengurus Pondok Pesantren menangani persoalan Pondok, utamanya soal kebersihan dan jadwal piket.

“Makasih Tan, Kakak tunggu di lapangannya ya.”

“Oke.” Jawab Intan dengan santai.

***

Lily menatap buku tipis di tangannya. Punggungnya mulai terasa ngilu, begitu pun kakinya. Sejam yang lalu, Lily datang ke perpustakaan, matanya menelusur deretan rak buku, ia membaca satu per satu judul buku yang ada di deretan itu. Beberapa buku sudah ia boyong, tapi ia belum puas dengan 3 buku saja di tangannya. Ia membutuhkan lebih banyak lagi dan memerlukan buku yang lebih spesifik tentang penyakit psikologisnya.

Ia meregangkan tubuhnya sejenak, kemudian melangkah menuju kursi di samping jendela. Wajahnya tegang dan lelah, wajahnya tampak sangat kusam ditambah dengan mata panda yang pekat, namun matanya sangat fokus memandangi satu demi satu halaman buku psikologis itu. Sebagaimana Intan yang gelisah dengan keadaannya, Lily pun bingung dengan dirinya sendiri.

Sudah hampir seminggu, Fira terus menerus menerornya baik saat ia tidur maupun saat ia terbangun, Fira selalu hadir dalam alam sadar dan bawah sadarnya, Fira tidak pernah memberinya kesempatan untuk sedetik saja menyejukan pikiran, Fira tidak ingin Lily hidup dalam damai, Fira akan menghancurkan pribadi Lily dan mengambil alih tubuh Lily dengan membiarkan pribadi Lily tidur dalam kegelisahan dan kebingungan selama mungkin, Fira tidak ingin Lily dengan mudah menghancurkan dan membunuh dirinya, Fira ingin hidup merdeka, Fira tidak ingin terjebak dalam tubuh Lily, Fira ingin melampiaskan kebenciannya dan membalaskan dendamnya kepada semua orang yang membiarkannya semenderita ini.

“Fira sebenarnya apa maumu?” batin Lily.

Tiap kali Lily memikirkan penyakitnya, Lily merasa seakan dadanya diremas dan air matanya dipaksa keluar, kepalanya sakit dan jantungnya berdegup tidak karuan, nampak seperti ia terkena penyakit kepala dan sesak tiba-tiba. Meski begitu, Lily tetap bertahan pada keyakinan bahwa dirinya tidak serapuh itu, ia percaya bahwa orangtuanya mewariskan karakter tegar dan tegas pada dirinya. Lily akan melenyapkan pribadi Fira yang terkerangkeng dalam dirinya dengan cara apa pun. Ia tidak peduli apa pun risikonya, ia akan membunuh Fira bahkan saat sebelum Fira bangkit lagi.

Ustadz Ali menatap Lily dengan tatapan sinis dan menyelidik di pojokan samping pintu, sesekali ia melihat jam tangan dan menggumamkan sesuatu. Lily mengenal Ustadz Ali sebagai Ustadz paruh baya yang rajin, disiplin, dan galak. Ustadz perpustakaan ini akan mengamuk saat melihat santri melanggar peraturan, tapi Ustadz memiliki tampang yang ramah dan lucu. Kulitnya putih, perutnya buncit, matanya sipit, senyumnya lebar, dan kepalanya sebagian botak. Santri senang bercanda dengannya sebab ia memang orang yang menyenangkan saat sebelum santri membuatnya mengamuk.

“Ustadz Ali bentar lagi marah, aku harus keluar dulu, mungkin besok aku bisa ke sini lagi” Gumam Lily dalam hati.

“Udah selesai belum Ly?” tegur Ustadz.

“Udah Ustadz.”

“Ya udah kalo gitu, cepet keluar. Mau saya tutup, istri saya nungguin nih.”

Lily mengiyakan dan bergegas keluar. Ia meminjam 3 buku yang akan dibacanya tadi. Tidak masalah jika ia membaca 3 buku itu di hujrah, saat santri bertanya “Kenapa baca buku psikologis?” Lily hanya perlu menjawab “Lagi tertarik dengan psikologi”. Masalahnya sekarang ialah bagaimana ia melewati lapangan sedangkan Intan ada di sana. Ia masih belum siap menghadapi sahabatnya itu, ia takut dengan apa yang telah dilakukan Fira pada sahabatnya, ia pun bingung dengan jawaban yang akan ia berikan saat Intan bertanya “Lily kemarin kenapa?”, apa jawaban yang pantas untuk pertanyaan macam itu?

“Ly?” Teriak Intan.

Intan memanggilnya!

“Ly, tungguin!”

Intan memintanya menunggu! Lily mesti mengiyakan pinta sahabatnya itu. Ia berusaha terlihat setenang mungkin di hadapan Intan, ia tidak boleh membuat Intan curiga apalagi bertanya “Kenapa” padanya. Beberapa menit kemudian Intan sudah ada di sampingnya, Intan hanya menyebut namanya, ia diam setelahnya.

“Ly?”

Sebenarnya, Intan merasa ngeri berada di samping Lily. Ia sudah tidak berkomunikasi dengan Lily sejak beberapa hari yang lalu, dan sekarang, saat ia piket, ia malah memanggil dan menghampirinya! ”Intaaannnnn, bloon banget sih! Masa lagi piket gini!” Ia menggerutu dalam hati. Intan tidak bisa bersikap seakan ia tidak tahu bahwa Lily melewati dirinya, wajar jika ia menegur sahabatnya, dan tidak wajar jika ia membiarkannya pergi tanpa menegurnya.

“Tan kita ke saung aja yu!” Lily memecah lamunan Intan.

“Ah iya deh, ayu” Jawab Intan.

***

Siang itu, tanggal 30 April, cuaca masih cerah dan hangat, angin sepoy memanjakan suasana, dan keheningan menyelimuti. Lily dan Intan duduk berdua saja di saung yang kosong. Tampak di atas, segelintir santri sedang memungut sampah, membawa tong sampah, dan menyapu daun-daun kering di lapangan, sedangkan di bawah, santri wanita sedang istirahat serempak di tiap-tiap kamar, Lily dan Intan saja yang terlihat. Suasana lingkungan bawah ini sangat sesuai dengan apa yang diinginkan Lily, Lily akan gelisah jika ada satu santri saja yang mengawasinya dan Intan. Pengurus Pondok dan santri harus ia hindari.

“Tan?”

“Iya Ly, hehe… ada apa?”

Intan terlihat sangat canggung dan gelisah. Lily menduga bahwa Fira sudah berbuat salah pada sahabatnya ini, tapi Lily tidak bisa menebak apa yang sudah Fira perbuat.

“Santai aja Tan! Aku ngajak kamu ke sini cuma buat curhat doang ko, curhat kaya biasa aja. Senyum dong! Emangnya aku hantu, kamu keliatan takut banget ama aku Tan.” Lily tersenyum, ia berusaha mencairkan suasana yang mulai menegang. Ia penasaran dengan tanggapan Intan nanti. Intan terlalu polos untuk terlibat dalam masalahnya, apalagi mengetahui penyakitnya, Lily tidak ingin melibatkan Intan, Lily tidak ingin Intan bertanya soal kondisi kejiwaannya sekarang, ia tidak ingin Intan bertanya “Kenapa”, itu saja yang tidak diinginkannya saat ini. Ada Intan yang selalu mendengarkan keluh kesahnya saja sudah cukup bagi Lily, hanya ada Intan yang selalu di sampingnya sudah bisa menenangkan batin Lily. Intan tidak perlu terlibat masalah dengan Fira.

Di lain sisi, Intan sedang bergolak, Ia semakin takut dengan melihat senyum manis Lily. Ia tidak menyangka sahabatnya akan ceria dan manis lagi setelah sekian minggu terlihat mengerikan, tapi masalahnya sekarang, ia semakin bingung dengan apa yang harus ia bicarakan pada Lily. Ia ingin sekali berkata bahwa ia telah membongkar diary sahabatnya, apakah tidak masalah jika ia jujur? Ia ingin bertanya mengenai siapa yang menulis diary Lily, ia sangat ingin tahu itu.

“Tan, ko malah diem? Taaannn…!”

“Ly, maaf banget Ly. Aku mau ngomong sesuatu, tapi kamu harus janji dulu, jangan marah ya. Kamu janji jangan marah ya kalau aku ngomong ini, yah yah yah!”

“Iyaaa, aku janji.”

“Aku baca diary kamu Ly, maaf…” Kata Intan sambil menunduk dan memelas.

“Kamu baca bagian mana?” Tanya Lily mendesak.

“Aku baca curhatan tanggal 12 April, Ly.”

“Apa???” teriaknya dalam hati. Otot Lily mulai lemas, kaki dan tangannya gemetar, hatinya berkecamuk, logikanya pudar, wajahnya suram, dan jantungnya berdegup tidak teratur. Kondisi Lily semakin buruk, ia sangat terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Intan, ia tidak menyangka Intan telah membacanya, ini di luar kendalinya. Lily tenggelam dalam kegalauan, ia terlalu lelah dengan kondisinya saat ini. Ia merasa, ia sudah tidak bisa membendung cairan hangat di pelupuk matanya, ia ingin menangis sekeras-kerasnya.

“Apa yang akan terjadi selanjutnya, ya Allah bantu aku!” Rintih Lily dalam benaknya. Ia mencoba terlihat normal di hadapan Intan, saat kondisinya sedang kacau, ia harus berpikir jernih di depan Intan.

“Tan, apa tanggapan kamu tentang tulisan itu?”

“Aku bingung banget Ly, aku yakin kamu bukan orang yang seperti itu. Aku gak tahu Ly, aku terlalu bingung.”

Sejenak hening, kemudian Intan kembali meneruskan perkataannya, “Siapa sih yang nulis diary itu Ly?”

“Bukan aku Tan” Jawab Lily pasrah. Ia terlalu bingung memikirkan jawaban palsu, ia memilih jujur untuk meringankan pikirannya, sebab berbohong malah akan memberatkannya.

“Iya, terus siapa Ly?” Desak Intan.

“Namanya Fira, dia adalah pribadi aku yang lain.” Lily mulai menjelaskan keadaannya secara perlahan pada Intan, Intan tidak bisa mencerna penjelasannya jika terlalu rumit.

“Kamu tahu penyakit kepribadian ganda?” Tanya Lily.

“Pernah denger sih, tapi gak  terlalu paham Ly. Maksud kamu, kamu punya penyakit itu?” Tanya Intan kebingungan.

“Iya. Aku punya dua kepribadian, yang satu itu aku dan satunya lagi Fira.” Lily memastikan apakah Intan siap mendengarkan penjelasan lebih lanjut, ia diam sejenak, menunggu respons dari Intan.

“Terus Ly? Terusin, Aku masih belum paham, hehe…” Intan merespons.

“Aku ini pribadi yang sebenarnya Tan, sedangkan Fira itu cuma pribadi yang kadang-kadang muncul. Kalau Fira muncul, aku gak akan sadar dengan apa yang udah dilakuin ama Fira. Fira itu kaya hantu yang kadang-kadang menguasai aku, persis seperti kesurupan Tan. Dan Fira gak akan sadar juga dengan apa yang aku lakuin sekarang, jadi kita gantian pake tubuh ini, tapi aku pribadi yang asli, sedangkan Fira itu pribadi kedua yang harusnya gak ada.”

“Oh iya aku paham Ly, pantes aja kamu kaya kesurupan, aku kira kamu beneran kesurupan loh. Jadi yang kemaren itu bukan kamu? Kamu gak inget kan dengan kejadian kemaren?”

“Kejadian apa Tan?”

“Gak ada apa-apa sih. kamu cuma diem, galak-galak gimana gitu, aku aja ampe takut ngedeketin kamu, pokoknya kamu diem aja, misterius gitu deh.”

“Iya, Fira emang kaya gitu Tan.”

TEEEEEETTTTTT…

Bel berbunyi, mereka berdua sudah harus bercepat-cepat ke tempat pengajian. Pengurus Pondok pun sudah terlihat duduk mengawasi santri di pinggiran tangga (penghubung lapangan atas dan asrama santri putri). Satu per satu santri berduyun-duyun menaiki tangga itu, tempat pengajian ada di seberang lapangan atas. Suasana perlahan menjadi ramai, beberapa santri berteriak memanggil temannya, ada yang asyik mengobrol sambil berjalan, yang berlari sana-sini mencari sesuatu, yang meminjam pulpen, kitab, dan buku catatan, dan ada Lily dan Intan yang bergegas beranjak dari saung.

“Tan, kamu tahu kan, kalau aku gak suka ada orang yang tahu tentang penyakit ini selain kamu?” Lily membuka obrolan lagi di tengah perjalanan mereka ke kelas.

“Iyaaa…” Wajah Intan masih nampak khawatir dan ketakutan, sebab ada yang ia sembunyikan dari Lily. Intan tak kuasa menceritakan bahwa Pengurus Pondok Pesantren juga membuka diary itu, jika Lily tahu, Lily akan semakin terguncang, dan keadaan akan semakin runyam dan tidak terkendali. Jika Lily berurusan dengan Pengurus Pondok, Pondok Pesantren pasti akan ‘ramai’ dan berantakan, membayangkannya saja sudah membuat Intan merinding. Lily dan Pengurus Pondok harus dipisahkan.

“Tan? Kamu ngelamun? Ada yang kamu pikiran ya?” Tegur Lily.

“Hah? Hehe… enggak Ly, cuma ngelamun biasa aja ko” Jawab Intan gagap.

“Serius?”

“Iya… tenang aja” Gelagatnya aneh. Intan bukan pembohong yang andal, namun Lily nampak tidak lagi mencurigainya.

“Ly?” Seseorang memanggil mereka dari kelas, namanya Reyza, teman sekelas Lily dan Intan.

“Ustadz Ansharnya ada gak Rey?” Tanya Lily.

“Ustadznya gak ada, lagi ada urusan. Kamu ajarin anak-anak aja Ly!”

“Iya. Aku ama Intan ke kelas yang gak ada ustadznya sekarang, kamu ikut gak Rey?”

“Aku di sini aja Ly.” Reyza memilih nongkrong di kelas, ia akan murajaah (mengulang kembali pelajaran) atau tidur sampai ashar. Santri putra memang biasa begitu, sementara santriwati biasa mengajar di kelas junior.

Lily dan Intan pergi menaiki tangga menuju lantai dua gedung depan lapangan atas. Kelas yang mereka tuju ada di samping aula mini yang dingin dan gelap. Terlihat anak-anak kelas 2 dan 3 SMP sedang bercengkerama di depan kelas samping aula. Kelasnya ada dipojokan gedung, memang terasa asyik bagi mereka nongkrong sambil menikmati angin dan cuaca di pojokan seperti itu. Lily dan Intan dianggap sebagai dua senior menyebalkan yang menggangu kesantaian mereka saat Ustadz absen. Santri memang selalu dilanda bosan. Lily dan Intan hanya menarik nafas panjang melihat tingkah mereka yang kocar-kacir masuk ke dalam kelas sambil menggerutu. Meski demikian, sebagian anak terlihat bergairah, sebab Lily datang menggantikan Ustadz. Banyak santri yang mengagumi Lily, mereka merengek meminta Lily menjadi Kakak-kakaan mereka, mereka senang sekali memuji Lily, menatap Lily jika berpapasan, dan bergosip tentang Lily. Bagi anak-anak itu Lily bak selebritis. Lily cantik, fashionable, cerdas, berbakat, berprestasi, dan baik hati. Mereka tidak pernah sekalipun bosan membicarakan Lily, bahkan melihat foto Lily.

“Temen-temen, Kak Lily mau ke sini!” kata salah satu santri yang tadi santai di depan kelas.

Serentak mereka merapihkan posisi duduk mereka, dan saling bertatapan kebingungan. Sebagian dari mereka sangat menghormati Lily, mereka bingung bagaimana mereka bersikap di depan Lily. Mereka khawatir Lily akan kecewa dengan sikap mereka. Lily sudah seperti putri Mudir bagi santri Al-Ikhlas, bagi mereka menghormati seorang putri Mudir ialah keharusan, putri Mudir ialah ‘Putri’ di Pondok Pesantrennya.

“Assalamualaikum” Lily memberi salam.

Santri menjawab kompak, “Waalaikum salam”.

“Ustadznya gak ada ya?” Lanjut Lily.

“Gak ada kayaknya Kak” Sahut salah satu santri.

Lily bertanya soal bab yang mereka pelajari, kemudian meneruskan pelajaran santri kelas 2 dan 3 SMP itu ke bab selanjutnya. Intan mengawasi mereka sambil bertanya apakah mereka paham dengan apa yang dijelaskan Lily atau tidak, jika ada santri yang tidak memahaminya, Intan akan menjelaskan ulang. Intan pandai dalam mengawasi santri dan mengoreksi hafalan santri. Sesekali Intan duduk di samping santri, melihat-lihat catatan mereka, dan menguji hafalannya. Intan juga sangat cekatan jika ada santri yang bertanya padanya. Lily pun mengakui keahlian Intan, ia bahkan mengaguminya. Terkadang, Lily akan membagi santri menjadi dua kelompok, satu kelompok belajar dengan Intan dan satunya lagi dengan Lily. Kelas yang mereka bina memang hampir selalu kondusif, terhitung jumlah santri yang berani berbuat ulah depan Lily.

Di tengah pelajaran, Lily merasa pusing, ia menahan rasa pusingnya beberapa menit, lalu keluar saat sakitnya mulai menyiksa. Intan khawatir dan bingung saat melihat wajah Lily yang pucat pasi. Ketika Lily meminta Intan untuk menggantikannya, Intan langsung berkata iya.

***

Tubuh Lily meringkuk di sudut aula mini yang gelap dan dingin itu, sambil bergetar hebat. Tiba-tiba setelah bunyi tercekik samar, dia pingsan. Semenit kemudian, dia membuka mata, lalu tercengang memandang sekeliling, pada dinding, pada kaca-kaca aula, pada meja-meja yang terjajar di ujung.

“Ya Allah, jangan!” dia merengek. “Jangan lagi!”

Dia duduk di lantai, memandang kosong ke depan. Sorot wajahnya menjadi hampa. Dia lalu keluar aula mini, berdiri di depan, dagunya bertumpu pada kedua telapak tangan. Dia tersenyum sinis dengan sorotan mata tajam sambil memerhatikan panorama di sekitar Al-Ikhlas.[1]

[1] Bagian ini terinspirasi dari novel 24 Wajah Billy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s