Kutipan dan Pemikiran Aristoteles: tentang Logika dan Tuhan

image

Hay readers
Salam semangat πŸ™Œ

Well, semua orang pasti tahu siapa Aristoteles. Filosof atau muallim al-awwal ini termasuk orang yang aku idolakan banget, di samping Ibnu Sina, Gengis Khan, dan Umar bin Khattab (kalo Nabi Muhammad dan orang tua mah jangan ditanya πŸ˜‚, We all admire and love them so much).

Tentang Aristoteles:
Ayah Aristoteles merupakan seorang dokter dan ilmuwan, Aristoteles bukan dari Athena, ia berdomisili di Macedonia. Pada umur 17 tahun, ia pergi ke Athena untuk belajar di Akademi Plato (murid Socrates), kemudian setelah Plato meninggal, ia menggantikan Plato sebagai guru besar di Akademi tsb, ia mengajar di sana selama kurang lebih 20 tahun. Setelah itu, ia memilih mengembara dan melakukan riset di bidang biologi.

Aristoteles bukan hanya seorang filosof namun juga seorang ilmuwan biologi pertama di Eropa. Konsep silogisme/logika yang ia kembangkan saat ia melakukan riset biologi menjadi fondasi bagi ilmu pengetahuan yang berkembang sekarang. Oleh karenanya, ia diberi sebutan “Bapak Ilmu Pengetahuan” atau “Bapak Logika”. Eksper (ahli) menyebut Aristoteles sebagai seorang organisatoris yang membersihkan atau meluruskan cara berpikir kita. Berkat Aristoteles, kita bisa berpikir jernih dan mengembangkan ilmu pengetahuan (kalo yang mikirnya gak jernih, sesekali buka aja bukunya Aristoteles πŸ˜‚… kidding, peace ✌).

Meski Aristoteles belajar filsafat dari Plato, pemikirannya malah sangat berbeda dari Plato, bahkan kebalikannya. Plato terkenal dengan teori dunia ide, ia percaya bahwa yang nyata itu adalah ide. Menurutnya apa yang kita lihat, kita buat, kita dengar, rasa, sentuh atau yang bisa kita tangkap dengan indra adalah proyeksi dari ide. Bagi Plato, ide ialah zat yang paling nyata dan kekal dari semua perubahan alam atau dari semua yang menjadi proyeksi dari ide. Ada realitas (nyata) di balik dunia materi. Dan, Plato menyebut realitas itu sebagai dunia ide.

Aristoteles menolak teori dunia ide yang dibawa oleh gurunya itu. Plato sibuk dengan zat yang nyata dan kekal (ide), sedangkan Aristoteles terjun ke dunia materi (proyeksi ide). Aristoteles pergi jauh meneliti apa yang ia lihat, ia meneliti apa yang dimiliki kodok, ikan, bunga, tumbuhan, dan lain sebagainya, ia memperhatikan proses alam, dan membuat ensiklopedia tentang apa yang ia teliti di lapangan. Plato memiliki corak yang abstrak, ia seorang penyair dan ahli mitologi (di samping seorang filosof), sedangkan Aristoteles berpikiran realistis dan agak lebih konkret, Aristoteles seorang ilmuwan yang telah membuat kurang lebih 170 buku ensiklopedia ilmu. Aristoteles telah mendirikan dan mengklasifikasikan berbagai ilmu.

Menurut yang aku pahami πŸ˜—, Aristoteles mengganti istilah “ide” milik Plato menjadi “substansi”, tidak hanya istilah, tapi konsepnya pun berubah. Substansi merupakan bahan untuk membuat benda, artinya substansi memiliki potensi untuk membentuk suatu benda yang aktual.

Aristoteles sangat memerhatikan perubahan alam, teori yang ia bawa di atas☝ialah teori yang dilahirkan dari pemikirannya terhadap perubahan alam. Alam selalu berubah, alam memiliki “potensi” untuk selalu berevolusi, alam memiliki substansi yang dapat berubah bentuknya atau membentuk sesuatu yang lebih nyata dan aktual. Kenapa dikatakan memiliki “potensi”, karena substansi tidak selalu menjadi benda pada akhirnya. Contoh, telur ayam (substansi) berpotensi menjadi anak ayam, telur ayam bisa saja tidak bisa mencapai potensinya itu karena digoreng manusia (misalnya).

Berbeda dengan teori “ide” Plato yang seakan meyakini bahwa ide bisa mengatur dunia materi, konsep Aristoteles di atas☝memiliki batasan di dalamnya. “Substansi” tidak bisa mengatur atau berubah menjadi apa saja, Substansi hanya bisa berubah menjadi sesuatu yang menjadi “potensinya”. Potensi benda yang dibuat substansi dibatasi oleh bentuk benda itu. Bentuk merupakan ciri khas dari setiap benda, “bentuk” menunjukan potensi dan juga batasan dari suatu benda.

Misalnya, telur ayam merupakan bahan atau substansi untuk membentuk anak ayam. Anak ayam ialah benda, benda ini memiliki “bentuk” yang menjadi ciri khasnya, bentuk atau ciri khas anak ayam tsb contohnya mengepak, mencicit, berkotek, dan lain sebagainya. Substansi bisa berubah menjadi benda yang lain, namun bentuk dari benda tersebut selain menjadi potensi bagi substansi juga menjadi batasannya. Telur ayam tidak bisa berubah menjadi anak angsa, dan anak ayam tidak bisa berenang seperti ikan. Contoh lainnya, sebongkah granit bisa dipahat menjadi benda apapun. Namun, benda yang dipahat dari granit itu tidak bisa menjadi makhluk hidup, sebab hidup bukan bentuk dari benda yang dibuat granit.

Paham gak dengan penjelasan di atas? Kalo gak paham, kita bisa diskusi lebih lanjut di kolom komentar. Aku belajar filsafat ini dari novel Dunia Sophie, teman-teman yang ingin tahu lebih lanjut tentang filsafat bisa beli atau download buku itu.

Intermezzo dulu dari filsafat πŸ˜‹, I’ll tell you about Aristoteles’ job besides as a philosopher and scientist.

Aku sempat baca bahwa Aristoteles juga mengilhami ide Rennaisance dan The Enlightenment di Eropa. Then, it makes me more admire him, soooo exited about him. Bayangin aja guys, saking hebatnya, pemikiran idol ini sampai terasa di dunia politik. Aristoteles memang belajar ilmu politik dan pemerintahan di samping ilmu eksak. ~my own perspective πŸ‘‰ Mungkin, kalo Aristoteles gak cinta banget ama ilmu pengetahuan, dia bisa aja terjun di dunia politik dan jadi pemimpin di zamannya. Ck βœŒπŸ˜‚

Tapi ternyata, Aristoteles lebih dari sekedar jadi pemimpin atau raja guys, dia jadi guru dari 3 raja ternama yang salah satunya adalah Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great)!!! Hebat banget kan?!

Aristoteleslah yang udah ngajarin raja-raja itu ilmu pengetahuan, filsafat, dan cara menjadi raja (pemimpin) yang baik dan adil. Bisa dibilang kalo Aristoteles adalah pembimbing mereka, khususnya Iskandar Zulkarnain.

Bicara soal Iskandar Zulkarnain, orang muslim pasti udah pada tahu kan kalo namanya disebutkan dalam al-Quran. Nah, terus yang jadi perhatian besar, khususnya bagi aku adalah “Bagaimana dengan Aristoteles (guru dari Iskandar Zulkarnain)?”

Pertanyaan di atas gak serius kok… just wonder πŸ˜…

The important thing is, Aristoteles believe in God, aku ulangi yaa… ARISTOTELES PERCAYA TUHAN. Itu intinya.

Ulama Islam pun menjadikan Aristoteles sebagai guru pertama (al-Muallim al-Awwal). Dan itu prestasi besar bagi Aristoteles (menurutku). Sebab berarti ilmuwan muslim atau para ulama juga belajar dari pemikiran Aristoteles dan menggunakan konsep berpikirnya. 😎

Lanjut….
Dalam filsafat Aristoteles, ada yang namanya “Sebab Terakhir” (sebagian dari kamu mungkin udah nebak maksud dari istilah “sebab terakhir” ya? Hehe). Sebab terakhir is not a God. Ilustrasi untuk lebih memahami konsep ini misalnya: hujan yang turun disebabkan oleh air yang menguap, kemudian air itu mengembun menjadi awan, dan jatuh (menjadi air lagi) ke bumi karena gravitasi. Aristoteles setuju dengan itu, tapi ia akan menambahkan sebab terakhir terjadinya hujan. Dan itu adalah manusia, hewan, dan tanaman.

Karena atau sebab manusia, hewan, dan tanaman membutuhkan hujan, hujan turun. Menurut Aristoteles, hujan memiliki “tujuan” atau tugas kehidupan yaitu menjaga keberlangsungan hidup makhluk yang ada di bumi. Aristoteles percaya bahwa ada tujuan di balik segala ciptaan. Atau dengan kata lain, ciptaan tidak diciptakan begitu saja, semua yang diciptakan memiliki peran fungsi, dan tujuan masing-masing yang berguna bagi ciptaan yang lainnya. Aristoteles percaya bahwa ada zat yang menciptakan dan mengatur semua itu.

Terakhir: ada kutipan dari Aristoteles yang aku kumpulkan. Ini dia πŸ‘‡

We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit.

It is the mark of an educated mind to be able to entertain a thought without accepting it.

What is a friend? A single soul dwelling in two bodies.

Pleasure in the job puts perfection in the work.

Happiness depends upon ourselves.

For the things we have to learn before we can do them, we learn by doing them.

All men by nature desire knowledge.

I count him braver who overcomes his desires than him who conquers his enemies; for the hardest victory is over self.

In all things of nature there is something of the marvelous.

No great genius has ever existed without some touch of madness.

The roots of education are bitter, but the fruit is sweet.

Those that know, do. Those that understand, teach.

Poverty is the parent of revolution and crime.

The aim of art is to represent not the outward appearance of things, but their inward significance.

All human actions have one or more of these seven causes: chance, nature, compulsion, habit, reason, passion, and desire.

A friend to all is a friend to none.

The energy of the mind is the essence of life.

There was never a genius without a tincture of madness.

The best friend is the man who in wishing me well wishes it for my sake.

Those who educate children well are more to be honored than they who produce them; for these only gave them life, those the art of living well.

The worst form of inequality is to try to make unequal things equal.

Aku harap teman-teman enjoy dengan filsafat Aristoteles ini. Sebenarnya masih banyak sih konsep filsafat Aristoteles, mungkin lain kali aku tulis.

Tulisan terbaruku tentang Aristoteles mengambil tema tentang persahabatan. Tulisannya tidak mengkaji secara mendalam bagaimana pandangan Aristoteles terhadap persahabatan, tapi InsyaAllah cukup untuk memberikan pengetahuan dan wawasan yang mendamaikan hati bagi pembaca πŸ™‚

So guys, jangan lupa klik tulisan baru tentang pandangan Aristoteles πŸ™‚ https://avicennatitans.wordpress.com/2017/04/19/persahabatan-komparasi-antara-pandangan-ibnu-athaillah-dan-aristoteles/ Cobalah untuk menghayati dan merenungkan isinya, semoga bermanfaat and have a great day for you all.

Appreciate it ^_^
Regards
Tita Novi

Follow me on instagram: tita_novi ^.^

Advertisements

4 thoughts on “Kutipan dan Pemikiran Aristoteles: tentang Logika dan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s