Inspirasi pada HUT RI ke-71: Revolusi Mental Anak-anak Desa  

Penulis merupakan masyarakat Indonesia yang hidup di daerah pedalaman. Penulis menghabiskan masa sekolahnya di kampung yang agak terbelakang. Meski kampungnya terbelakang, orang tua penulis ialah salah satu orang yang cukup berduit di kampung. Penulis bisa meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dengan uang orang tua, tidak hanya itu, penulis juga menghabiskan masa SMP dan SMA di sekolah yang cukup bagus di daerah yang tidak jauh dari kampungnya. Penulis patut bersyukur dengan kondisi keluarganya yang lebih beruntung dari keluarga lain di kampung. Namun penulis sempat lupa diri.

Tulisan ini bukan ditulis untuk menceritakan kehidupan penulis, sebenarnya. Hanya saja, inspirasi penulis untuk bangsanya bermula dari kehidupan penulis itu sendiri.

Catatan Penulis dan Sahabatnya

Penulis bersahabat dengan beberapa anak kampung di tempat lahirnya. Tidak seperti penulis yang lahir dari keluarga berkecukupan, tiga sahabat penulis lahir dari keluarga yang benar-benar miskin. Rumah sahabatnya dibuat dari bilik bambu, lantai rumahnya tidak dilapisi ubin, baknya dari sumur, dapurnya sangat tradisional, dan semua sudut rumahnya sempit, sumpek, bahkan bau. Apalagi jika keluarga sahabatnya itu punya balita, kamar mereka akan bau pesing bayi, kasur, bantal, dan guling pun dekil dan lepek. Mereka juga harus mengumpulkan kayu bakar untuk memasak.

Kondisi keuangan sahabat penulis memang begitu mengkhawatirkan, namun saat penulis banyak menghabiskan waktu dengan tiga sahabatnya itu, penulis tidak pernah menanggapi kemiskinan sahabatnya. Penulis hanya peduli dengan main bersama mereka, penulis tidak pernah merasa jijik masuk ke rumah sahabatnya, misalnya untuk mengajak mereka main atau berangkat sekolah bareng. Bahkan, seringkali penulis menunggu lama -hingga satu jam- di depan rumah sahabatnya hanya agar mereka bisa ke sekolah bersama.

Tapi, meski penulis bergaul dengan anak miskin kampung, karakter yang terbentuk tetap berbeda. Penulis dan sahabat-sahabatnya memiliki karakter yang jauh berbeda. Tidak sampai lulus sekolah menengah atas untuk tahu perbedaan tersebut, saat penulis dan sahabatnya belajar bersama pun, karakter mereka sudah terlihat berbeda. Karakter penulis tidak sangat spesial dari sahabatnya, penulis hanya memiliki satu sikap atau watak yang membuatnya berbeda dari mereka. Sikap itu adalah optimisme.

Saat pertama masuk sekolah setelah libur semester, guru biasanya akan memberi tugas untuk menulis seberapa serunya liburan para siswa di kelas. Penulis berumur sekitar 10 tahun waktu itu, penulis dan teman-temannya masih merupakan bocah kampung polos dan cengeng. Banyak siswa yang menyerah dengan tugas menulis tersebut, padahal tugasnya hanya menulis apa saja yang kita lakukan saat liburan, bagi bocah kampung seperti penulis dan temannya, itu terasa sangat sulit dan menyedihkan. Hanya segelintir bocah yang dibesarkan di keluarga kaya, termasuk penulis, yang ada di kelas itu. Kurang lebih, bocah berkecukupan itu hanya sekitar 10 orang dari 60 siswa. Kebanyakan dari siswa berasal dari keluarga miskin, sehingga mereka merasa tidak punya cerita apa pun yang bisa ditulis untuk memenuhi tugas. Banyak anak miskin yang hanya bisa terkagum-kagum dengan cerita anak kaya yang berlibur ke taman bermain di Jakarta, tak terkecuali tiga anak miskin yang dekat dengan penulis. Anak miskin hanya punya cerita tentang mengasuh adik, membantu orang tua, menjaga warung mini, dan bermain seadanya di kampung, mereka tidak punya satu saja agenda jalan-jalan. Mereka beruntung jika orang tua bocah kaya mengajak anak-anak kampung berlibur ke pantai, tapi itu jarang terjadi.

Sedekat apa pun penulis dengan sahabatnya, tetap saja ada penghalang di antara mereka. Kejomplangan kondisi ekonomi keluarga orang di kampung, khususnya antara keluarga penulis dan sahabatnya menjadi penghalang serius bagi mereka. Penulis sangat sanggup berlibur ke taman bermain mahal di Jakarta, sedangkan sahabatnya hanya bisa menunggu liburan gratis yang keluarga kaya sediakan. Tapi, sayangnya, seakan tidak ada warga yang menyadari kesenjangan itu, kebanyakan warga menganggap itu biasa saja dan wajar-wajar saja. Padahal, karena kesenjangan itu, anak berkecukupan dan anak miskin tidak bisa bergaul dengan leluasa. Dengan kata lain, yang kaya dan yang miskin selamanya seakan memiliki dunianya masing-masing.

Penulis punya satu sahabat yang cukup berapi-api dan optimis. Satu sahabatnya itu suka mengarang cerita yang jauh lebih menarik, misalnya jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah, untuk memotivasi dirinya. Ide itu juga sebenarnya datang dari penulis. Sahabatnya yang optimis itu cenderung tidak ingin terlalu memikirkan kemelaratannya. Ia sangat ceria dan selalu penasaran dengan setiap cerita liburan anak-anak mampu. Penulis juga berpikir bahwa tidak salahnya membuat cerita berlibur saja, meskipun cerita itu bukan cerita yang sesungguhnya. Jadi penulis selalu menyarankan para sahabatnya untuk bercerita tentang liburan seru ke tempat yang keren dan asyik. Tapi, hanya satu sahabatnya yang percaya untuk bercerita tentang itu, sedangkan yang lain, cenderung menenggelamkan diri dan menunjukan sikap memprihatinkan.

Setelah bertahun-tahun kemudian, penulis berhasil meneruskan sekolahnya ke perguruan negeri di Jakarta, penulis juga mendapatkan beasiswa mahasiswa berprestasi di kampus. Satu sahabatnya yang ceria dan cukup optimis berhasil tamat SMA swasta di kampung, sedangkan dua sahabatnya lagi, hanya lulus SMP. Dua sahabat penulis yang lulus SMP tersebut memutuskan untuk menikah di usia dini, yakni di usia 19 tahun. Rumah tangga dua sahabat penulis itu kandas setelah kurang lebih setahun menikah. Bahkan salah satunya kabur dari rumah karena tidak sanggup menjalankan rumah tangga dengan orang pilihan orang tuanya. Satu sahabat yang kabur itu dipaksa orang tuanya untuk menikah dengan lelaki pilihan mereka. Orang tuanya pula yang tidak mengijinkan dia sekolah di SMA dan memaksanya kerja di Jakarta.

Selama sekitar 3 tahun setelah lulus SMP, dua sahabat penulis yang tidak beruntung itu terpaksa kuli di Jakarta. Mereka remaja kampung yang polos dan lugu, mereka patut bersyukur, karena berkat keluguan mereka, mereka tidak terpengaruh kenakalan remaja kota. Dua sahabatnya itu masih orang yang sama sampai saat ini. Sayangnya, hingga kini pula mereka masih kuli di toko, status dua remaja ini pun bukan lagi remaja, tapi janda yang diceraikan suami.

Pesan dari “Catatan Penulis dan Sahabatnya” 

Indonesia benar-benar membutuhkan revolusi mental. Mental anak desa yang miskin cenderung pesimis dan menyedihkan, anak-anak itu sangat membutuhkan banyak sekali inspirasi dan harapan dari kita yang mengerti dan memahami mereka. Mereka memerlukan dorongan atau motivasi, mereka tidak bisa dibiarkan atau bahkan ditelantarkan. Penduduk dewasa sukses Indonesia mesti mengulurkan tangan mereka pada bocah bangsa. Bangsa ini memiliki tingkat kejomplangan ekonomi yang miris. Bocah miskin pasti merasa minder berteman dengan bocah kaya, serta tidak semua bocah kaya sudi berteman dan bergaul dengan orang miskin. Uang dapat membutakan manusia, tidak terkecuali seorang bocah. Tidak sedikit anak orang kaya yang senangnya hanya memamerkan kehidupannya yang enak di depan anak-anak miskin. Anak miskin itu lugu dan polos, keluguan mereka mengantarkan mereka pada kepesimisan. Bergaul dengan anak orang kaya berisiko membuat mereka minder dan menutup diri, hal ini berujung pada tertutupnya ide, inspirasi, atau pikiran untuk mencapai sukses dalam benak mereka. Dengan kata lain, mereka butuh harapan dan ide, agar mereka tidak hanya menerima hidup mereka yang melarat apa adanya. Anak-anak kampung membutuhkan cahaya untuk mentalnya.

Ada banyak sekali persoalan yang dihadapi remaja Indonesia, di antaranya ialah kenalakan remaja, tawuran, merokok, seks bebas, hubungan tidak harmonis dengan orang tua, menikah karena “kecelakaan”, bahkan drugs dan miras (minuman keras) dan banyak lagi. Namun, tidak sedikit dari kita yang hanya menengadah ke atas (hanya memerhatikan orang bergengsi dan berprestasi), tidak peduli dengan mereka yang ada di bawah kita (remaja yang bermasalah). Remaja-remaja itu masih punya nurani sebagai manusia, mereka masih punya bibit karakter yang baik. Remaja nakal tidak jauh berbeda dengan dua sahabat penulis yang bercerai dengan suaminya, dua sahabat penulis itu bukan tidak berkaratker baik, mereka orang baik dan bermoral, mereka hanya tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dengan masalah yang mereka hadapi. Sebagian warga desa akan berkomentar miring hanya dengan melihat mereka dan mendengar gosip tentang mereka, padahal seharusnya, dua sahabat penulis itu diberikan dukungan mental agar mereka sanggup menghadapi masalah yang dihadapi. Tidak seharusnya remaja nakal diberi  label jelek seenaknya, labeling hanya akan membuat mereka semakin nekat dan nakal, yang mereka butuhkan adalah perlakuan baik dari orang tua dan orang di sekitar mereka. Mereka ingin orang lain percaya bahwa mereka juga punya nurani dan masih “manusia”. Seharusnya masyarakat, guru, dan utamanya orang tua remaja nakal dapat mengerti dan memahami watak mereka dan apa yang mereka inginkan, setidaknya harus ada satu orang saja yang sanggup demikian.

Dirgahayu Indonesiaku

Selamat ulang tahun penulis sampaikan kepada bangsa ini. Penulis masih bisa menjalankan aktivitas dengan tenang berkat Indonesia. Penulis memperoleh pendidikan dan prestasi berkat Indonesia. Penulis bisa mendapatkan cerita yang mengagumkan dalam kehidupannya berkat Indonesia. Penulis bisa mengenal banyak sekali macam makanan yang nyentrik berkat Indonesia. Penulis bisa mencicipi keramahan masyarakat di kampung berkat Indonesia. Semuanya berkat Indonesia ada, sebab Indonesia merdeka. Penulis bisa hidup normal dan berkembang karena penulis merdeka, karena Indonesia merdeka.

Saking cinta dan bangganya penulis pada Indonesia yang berhasil merdeka, penulis tidak sanggup menulisnya dengan kata-kata, “sebenarnya”. Penulis sangat mengharapkan semua warga Indonesia menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hal yang sangat berharga, bahwa bangsa Indonesia ialah warisan yang tidak ternilai harganya yang harus kita pelihara dan kembangkan.

Intinya, mari cintai Indonesia dan belajar dengan sungguh-sungguh demi Indonesia. Tetap optimis anak-anak penerus bangsa! Senakal-nakalnya remaja bangsa, mereka masih remaja bangsa yang patut untuk dididik dan diperhatikan. Mari menjadi orang yang bermental optimis, penuh harapan, keberanian, dan kebaikan.

Kokohkan keluarga Indonesia ^.^

Thank you for reading

Appreciate it 😆

Regards

Tita Novi S

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s