Refleksi Pemuda: 3 Kualitas Dasar yang Mesti Pemuda Miliki 

​di ambil dari google 👇 foto di bawah ini 

Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.

(Pramoedya Ananta Toer)

Kata Soekarno tentang pemuda…., selama saya masih pemuda, kata itu seakan selalu terngiang mengingatkan. Soekarno sepertinya berniat menunjukan bahwa semangat kawula muda memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan apa saja yang dilakoninya. Manusia dengan umur berapa pun itu, jika ia punya semangat seorang pemuda, setiap apa yang ia kerjakan diprediksi pasti akan berbuah manis. Begitu interpretasi saya terhadap ucapan Soekarno, “Berikan saya 10 (sepuluh) orang pemuda, maka akan saya guncangkan dunia,” di kepala saya bunyinya berubah menjadi “Hanya dengan 10 (sepuluh) orang yang mempunyai semangat, maka orang yang bermimpi besar dan bervisi panjang akan mampu mewujudkan setiap apa yang ia dicita-citakan,” sehingga bukan seorang pemuda yang sebenarnya kita butuhkan, melainkan semangat muda. 

Pemuda, bagaimana pun ialah remaja umur sekitar 12 sampai 21 atau bahkan sampai 24 tahun. Masa remaja atau masa saat kita disebut sebagai pemuda atau pemudi ialah masa yang sulit dan genting, sebab pada masa itulah kita semua mengalami transisi dari bocah ke dewasa, atau dari awalnya semua bergantung kepada orangtua menjadi semua bergantung pada pilihan sendiri. Saat remaja, seseorang dituntut untuk bisa bertahan dan berjuang dengan sedikit bantuan dari orangtua, yakni diharuskan untuk mulai hidup mandiri. Oleh karenanya, remaja kerap kali merasa sunyi, ragu, tidak stabil, atau galau, mereka sedang menyusun dan merancang jati diri. Karena pencarian jati diri itulah, mereka menjadi bingung dengan diri mereka sendiri, hingga pada akhirnya galau. Mereka tidak ingin orangtua mencampuri urusan mereka, tapi di sisi lain, mereka juga ingin ada orangtua yang membantu mereka berkembang. Remaja memang sering bersikap naif, mereka tahu bahwa nakal dan galau itu tidak baik bagi mereka, tapi kebanyakan dari mereka malah tidak bisa menolak kenakalan dan kegalauan, bahkan cenderung suka melakukan hal-hal yang nakal dan/atau tenggelam dalam galau. Meski tidak semua remaja melakukan sesuatu yang nakal, tapi bisa dipastikan, semua remaja pernah merasa galau, bingung, sunyi, dan/atau hampa. Fase remaja memang merupakan fase genting dan menantang untuk perkembangan mental kita semua. 

Kemudian apa yang remaja miliki sehingga orangtua sekaliber Soekarno mengatakan hal yang demikian? Jawaban saya: pemuda punya energi. Orangtua memang memiliki emosi yang cenderung stabil ketimbang pemuda, tapi orangtua tidak lagi memiliki energi sebesar pemuda. Dengan energi, pemuda sudah menggenggam satu dari tiga modal utama untuk meraih impiannya. Ada tiga ‘modal’ yang perlu pemuda perhatikan di samping energi, yakni integritas dan inteligensi. Saya menganggap integritas serupa dengan karakter, etika, moral, atau akhlak terpuji (akhlaq al-karimah). Kita bisa memahami integritas sebagai karakter, etika, atau akhlak terpuji, sehingga dengan sinonim atau kata lain itu, kita bisa paham akan urgensi dari integritas untuk kita miliki sebagai seorang manusia –di samping sebagai pemuda-Kemudian, inteligensi juga bisa disamakan dengan kecerdasan, kemahiran, keahlian, passion, atau sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menyambung hidup. 

Ada banyak pakar yang memberikan definisi inteligensi, salah satu yang paling populer ialah definisi yang diberikan oleh S. Legg and M. Hutter, yaitu “Intelligence measures an agent’s ability to achieve goals in a wide range of environments,” artinya inteligensi mengukur kemampuan atau keahlian seseorang dalam mencapai tujuannya. Dari teori itu, kita pahami bahwa ternyata inteligensi bukan tentang kepintaran kita dalam mengerjakan soal matematika yang rumit, melainkan relatif. Inteligensi itu relatif dan subjektif, inteligensi tidak diukur dengan seberapa tinggi IQ yang kita punya, tapi inteligensi ialah apa yang kita mampu lakukan atau apa passion kita.

Dr. Howard Gardner, yaitu seorang pakar yang terkenal karena Theory of Multiple Intelligences di tahun 1983 membagi inteligensi menjadi 9 bentuk, antara lain kebahasaan (linguistic), logika matematika, musik, kinetik (bodily-kinesthetic), spasial, naturalis, interpersonal, intrapersonal, and kecerdasan spiritual (existential intelligences). Tidak ada satu pun di bumi ini yang tidak dianugerahi dengan salah satu dari 9 jenis inteligensi tersebut, setiap orang pasti memiliki minimal satu saja keahlian. Dengan keahlian itu, pemuda bisa mulai belajar untuk menemukan apa yang menjadi minatnya, kemudian dengan minat yang ia pilih, ia dapat mengembangkan minatnya dan menjadi ahli di bidang yang ia pilih. Lebih jauh, pemuda bisa menyumbangkan minatnya kepada Negara, misalnya dengan menjadi atlet Indonesia, ilmuwan handal asal Indonesia, musisi hebat asal Indonesia, dan lain sebagainya. Mengontribusikan keahlian kita untuk Negeri apalagi memperkenalkan Indonesia kepada Dunia ialah hal yang patut dipuji.  

Selanjutnya ialah integritas, kualitas karakter yang harus dimiliki seorang pemuda di samping energi dan inteligensi, sekaligus juga sebagai kualitas pamungkas di antara tiga kualitas yang ada. Integritas atau –sinonimnya etika bisa bertumpu pada beberapa konsep dasar seperti keadilan, hak, tanggungjawab, kebermanfaatan, dan kejujuran. Atas nama energi, tidak sedikit orang yang kelewat ambisius malah menjadi orang yang kurang bermoral atau tidak berintegritas. Contoh, mahasiswa aktivis memang memiliki semangat yang membara untuk organisasi politisnya, tapi banyak dari mereka yang apatis pada kuliah, bolos dan tidak maksimal dalam mengerjakan tugas yang diberikan dosen ialah misal dari sikap yang tidak berintegritas. 

 Doug Lennick dan Fred Kiel melaporkan hasil penelitian mereka dalam buku mereka Moral Intelligence (2008) bahwa good leaders ditemukan menjalani proses belajar moral dalam hidupnya, sejak kecil hingga dewasa, they listen carefully to the call of moral values as they go along. Berdasarkan penemuan ini, dianjurkan proses belajar nilai-nilai moral harus dikembangkan di tingkat individu, di tingkat organisasi, dan di tingkat masyarakat pada umumnya. Selanjutnya, Lennick dan Kiel menemukan korelasi yang sangat kuat antara pelaksanaan prinsip-prinsip moralitas yang kukuh dengan tingkat kesuksesan. Berdasarkan penemuan itu, Lennick menyarankan agar organisasi selalu meningkatkan moral intelligence-nya demi meningkatkan kinerja dan mencapai kesuksesan. 

Tentu ini menjadi peringatan (alert) bagi kita semua. Tidak hanya mahasiswa aktivis yang kebanyakan melupakan peran moral dalam mencapai kesuksesan, tapi siapa pun. Jika otak kita hanya diisi oleh ambisi yang berapi-api, ambisi atau “energi” itu sebaliknya akan menjerumuskan dan membunuh kita, bukan mengantarkan kita pada apa yang kita tuju. Begitulah energi yang dimiliki kawula muda, akan berubah bahaya jika tidak disertai dengan akhlak (baca: integritas). Menanamkan integritas pada jiwa seorang remaja adalah sesuatu yang mendesak dan krusial bagi kita, karena bila gagal, akan lahir oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab di kemudian hari di Indonesia kita.

Simpulannya bahwa pemuda perlu memupuk tiga kualitas karakter dalam dirinya yaitu integritas, inteligensi, dan energi. Pemuda harus memiliki keberanian dan semangat dalam mengembangkan keahliannya dengan cara yang terpuji dan bermoral. Salam progresif!

Daftar Pustaka 

Lennick, Doug dan Fred Kiel. 2007. Moral Intelligence: Enhancing Business Performance and Leadership Success. New York: FT Press.  

Reed, W. Lawrence. 2013. Are You Good for Liberty? Ottawa, Illnois: Jameson Books, Inc. 

Freddy. “What Does it Mean To Be Intelligent?”  HYPERLINK “http://www.opencolleges.edu.au/informed/features/what-does-it-mean-to-be-intelligent/” http://www.opencolleges.edu.au/informed/features/what-does-it-mean-to-be-intelligent/ (diakses tanggal 29 Oktober 2016).

 HYPERLINK “http://eprints.uny.ac.id/8119/4/bab%205%20-08520244018.pdf” http://eprints.uny.ac.id/8119/4/bab%205%20-08520244018.pdf (diakses tanggal 28 Oktober 2016).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s