Persahabatan: Komparasi antara Pandangan Ibnu ‘Athaillah dan Aristoteles 

Sahabat sejatimu adalah yang bersahabat denganmu dalam kondisi ia mengetahui aibmu. Dan hal itu tidak lain adalah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Sebaik-baik sahabatmu adalah yang mengharapmu bukan karena keuntungan yang ia harap darimu.

(Ibnu ‘Athaillah)

Salam semua 😉

Temen-temen semuanya, saya yakin, yang punya watak pemurung, sosiopat, atau bahkan yang psikopat sekali pun tentu memiliki sahabat karib -setidaknya pasti pernah punya sahabat. Sahabat bukan teman karib yaaa, tapi sahabat… yakni orang yang sangat sangat dekat dengan kita seperti keluarga kita sendiri.

Well, saya ingin bercerita tentang ‘itu’ kali ini. Mengapa? Karena… saya penasaran. Kenapa kok kita tidak bisa bersahabat karib dengan sekian puluh orang? Kenapa satu atau dua atau secuil sahabat saja yang bisa kita dapatkan gan? Kenapa???

Berikut saya kutip untaian hikmah dari kitab masyhur al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah tentang sahabat:

Allah-lah sebaik sahabat, sebab dalam keadaan apa pun, Dia tetap berjabat. belajarlah dari sifat-sifat-Nya agar engkau memperoleh cahaya kemuliaan. Tidaklah mudah menjadi sahabat, tidak pula gampang menemukan sahabat. Sekadar berteman sesaat, kita akan dapatkan setiap saat dan di setiap tempat. Tetapi bersahabat melintasi musim dan masa yang berganti, kenyataannya sulit memperoleh sahabat yang tetap berada di sisi kita pada semua keadaan. Selalu ada alasan yang membuat orang berdiri tegak di sisi kita sebagai sahabat, atau berlari menjauh dan berkhianat. Allah bersahabat tanpa alasan. Kebaikan dan keburukan yang hadir bergilir dalam diri kita, tidak membuat-Nya berpaling dari kita. Kitalah yang sering berpaling darinya. Apakah ini sebanding?

…………………………………………………………………………………………………………………..

Renungkanlah sejenak untaian hikmah yang nyaman di baca itu, tarik napaslah dulu dan atur napasnya. heeee…

al-Hikam, meski hanya terjemahannya, tapi tulisannya tetap indah banget diresapi. Kembali ke topik, sahabat itu memang sesuatu banget yaa… 🙂 sosoknya sangat sulit dicari, langka, dan dibutuhkan. Saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpa orang yang sayang pada saya (you know love? it’s not just about romantic love okey!?) Ya! saya akan merasa sepi, kosong, hampa, hilang, bahkan hancur, jika tidak ada seorang pun yang saya punya, kalau tidak ada sahabat yang bisa saya jadikan tempat curhat. Merinding. Tidak ada yang sanggup untuk hidup seorang diri guys!

Kita makhluk gaul, kita butuh gaul. Butuh teman ngobrol dan teman sharing. Agan tidak gaul, maka agan akan depresi, sebab agan telah melanggar insting agan sebagai makhluk gaul. Yaa… secara alami, manusia memang selalu mencari orang sebagai tempat untuk bersandar (sebagai keluarga atau sahabat kita).

Maaf, saya ngelantur lagi… hehe.

Saya akan mengulas sedikit tentang bagaimana Aristoteles memandang persahabatan. Well, bagaimana menurut agan semua? Terlintaskah ‘sesuatu’ dalam pikiran antum tentang guru filsafat kita Aristoteles? Apa yang ada dalam bayangan antum tentang persahabat Aristoteles?

Aristoteles tidak punya sahabat? Aristoteles itu cupu? Beliau tidak punya waktu untuk dekat dengan orang, Aristoteles pastinya hanya peduli pada ilmu dan filsafat, dsb dsb.

Meski saya tidak akan membahas soal sahabat Aristoteles atau bagaimana cara Aristoteles bersahabat, tapi saya cukup yakin untuk berkata: STOP! Berhenti berpikir bahwa Aristoteles itu bukan manusia guys. Filsuf besar, Aristoteles ini sama dengan kita, manusia. Beliau punya istri,anak, guru, dan murid yang tentunya karib dengan beliau. Aristoteles pun punya sahabat, punya orang yang ia jaga dan ia sayang.

Aristoteles, dalam Nichomachean Ethics, menulis bahwa persahabatan yang sejati (yang sesungguhnya) amatlah sulit untuk didapatkan dan untuk dipelihara. Hasil temuan Aristoteles atau pendapatnya ini serupa dengan apa yang dicatat dalam kitab al-Hikam di atas. Kenyataannya sangat sulit memperoleh sahabat yang tetap berada di sisi kita pada semua keadaan.

 Click on the image above to read "The Nichomachean Ethics", by Aristotle.-

sumber gambar di atas adalah https://aquileana.wordpress.com/2014/02/11/aristotles-nichomachean-ethics-three-types-of-friendship-based-on-utility-pleasure-and-goodness/

fri6

fri5

sumber gambar: masih sama dengan sumber gambar sebelumnya.

Quote yang kedua: a friend to all  is a friend to none, saya pahami bahwa orang yang ramah dan baik pada setiap orang kadangkala ia bukan orang yang baik (kadang ia adalah orang yang pasif agresif, yaitu orang yang manis di depan kita tapi menggerutu dan membenci di belakang). Sementara quote yang pertama: wishing to be friends is quick work, but friendship is a slow ripening fruit, saya yakin, hampir dari kita semua setuju dengan ini. Berteman itu mudah, tapi menemukan dan memupuk persahabatan itu lama dan pelan.

Menurut Aristoteles, cara bersahabat ialah berikut ini:

  1. bertemanlah selama bertahun-tahun untuk tahu apakah teman antum itu tulus atau tidak.
  2. bagilah kepahitan hidup antum dengan teman antum, misalnya berbagi pengalaman yang pedih (berjuang bersama menghadapi sesuatu yang pelik), agar antum bisa sehati (menyatu) dengan sahabat antum.
  3. carilah sahabat yang sekupu dengan antum, yakni yang otaknya (baca: cara berpikir/pola pikirnya) nyaris sama dengan otak antum. Karena jika tidak seimbang atau sekupu, maka bisa saja, pihak yang posisinya lebih rendah dari antum hanya mengharapkan keuntungan (gain) dari antum saja (sebagaimana yang tercatat dalam a-Hikam di atas).

Tiga tips bersahabat ala Aristoteles itu bukan merupakan tips dari saya yaa… itu menurut Aristoteles, benar-benar dari Aristoteles yang dikutip dari link https://www.psychologytoday.com/blog/buddy-system/201704/friends-in-high-places-aristotles-view

Alhamdulillah, sampai di sini saja… saya harap, saya bisa meneruskannya nanti. lebih lanjut, coba baca juga tulisan dalam link https://www.stpeterslist.com/14140/the-3-types-of-friendship-according-to-aristotle/ atau buka setiap link yang saya bagi 🙂

Terimakasih teman-teman. Semoga bermanfaat… 🙂 😉

Regards: Tita Novi S

http://ho.lazada.co.id/SHPBdh

Advertisements

One thought on “Persahabatan: Komparasi antara Pandangan Ibnu ‘Athaillah dan Aristoteles 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s